WWW.PASJABAR.COM – Perusahaan perangkat lunak desain asal San Francisco, Figma, Inc., resmi mengajukan dokumen pendaftaran penawaran umum perdana (IPO) kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC).
Perusahaan yang dikenal luas karena fitur kolaborasi desain secara real-time ini berencana melantai di Bursa Efek New York (NYSE) dengan simbol saham “FIG.”
Pengajuan IPO ini menjadi momen penting bagi Figma setelah sebelumnya gagal diakuisisi oleh Adobe pada 2022 karena tekanan dari regulator.
Kini, Figma kembali melangkah sebagai entitas independent. Dan jika rencananya mulus, akan menjadi perusahaan keempat asal San Francisco yang IPO sepanjang 2025.
Dalam surat pendirinya, CEO Dylan Field menyebut bahwa keputusan go public adalah bentuk ajakan kepada komunitas untuk ikut memiliki Figma.
“Saya suka ide bahwa komunitas dapat berbagi kepemilikan Figma—dan cara terbaik untuk mencapainya adalah melalui pasar publik,” ujar Field dalam surat yang dipublikasikan di blog resmi perusahaan.
Performa dan Basis Pengguna
Figma mencatat pendapatan sebesar $749 juta pada 2024 dan mengklaim telah digunakan oleh 95 persen perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 500.
Meski begitu, perusahaan juga melaporkan kerugian bersih yang signifikan tahun lalu. Terutama akibat kompensasi berbasis saham.
Didirikan oleh Dylan Field dan Evan Wallace pada 2012, Figma telah berkembang menjadi alat utama bagi desainer UI/UX dan pengembang produk digital di seluruh dunia.
Investasi Bitcoin Jadi Sorotan
Salah satu sorotan dalam dokumen pengajuan S-1 Figma adalah strategi keuangannya yang cukup agresif—yakni alokasi dana perusahaan ke aset kripto, khususnya Bitcoin.
Per 31 Maret 2025, Figma tercatat memiliki investasi senilai $69,5 juta dalam ETF Bitcoin spot Bitwise (BITB). Yang telah mencatatkan keuntungan tidak terealisasi sebesar 26–27 persen.
Nilai tersebut setara dengan sekitar 4–5 persen dari total kas dan sekuritas Figma yang berjumlah $1,54 miliar.
Selain itu, dewan direksi Figma juga menyetujui pembelian Bitcoin senilai $30 juta pada 8 Mei 2025. Dimulai dengan akuisisi stablecoin USDC sebagai langkah awal.
Investasi ini menandai adopsi strategi diversifikasi treasury ala perusahaan seperti MicroStrategy dan Metaplanet.
Secara total, Figma telah mengalokasikan hampir $100 juta ke aset terkait Bitcoin—sekitar 6,5 persen dari dana kas dan sekuritas mereka.
Respon Pasar dan Risiko
Langkah ini dinilai menarik minat investor yang berpihak pada inovasi dan adopsi kripto. Di sisi lain, sejumlah analis memperingatkan bahwa strategi ini bisa menjadi pedang bermata dua.
Pasalnya, volatilitas harga Bitcoin dapat memengaruhi stabilitas keuangan Figma, apalagi menjelang IPO.
Investor institusional yang konservatif kemungkinan akan bersikap hati-hati. Survei BlackRock tahun 2024 menunjukkan bahwa 60 persen investor institusi masih menghindari kripto karena alasan volatilitas dan ketidakpastian regulasi.
Namun, di kalangan komunitas teknologi dan desainer, keputusan Figma ini justru dipandang sebagai langkah berani dan sejalan dengan semangat inovasi Silicon Valley.
Di media sosial X (sebelumnya Twitter), banyak pihak menyambut langkah Figma sebagai validasi lebih lanjut atas peran Bitcoin. Sebagai aset strategis dalam manajemen keuangan korporasi.
Menuju IPO, Banyak yang Dipertaruhkan
Dengan Morgan Stanley, Goldman Sachs, Allen & Company, dan J.P. Morgan sebagai penjamin emisi utama, Figma tampaknya serius menghadirkan debut publik yang kuat.
Namun, apakah strategi crypto-friendly ini akan memperkuat daya tarik IPO mereka atau justru menimbulkan kekhawatiran investor konservatif, masih menjadi pertanyaan terbuka.
Yang jelas, perusahaan ini kini menjadi bagian dari tren yang semakin berkembang: perusahaan teknologi yang tidak hanya berinovasi dari sisi produk. Tetapi juga dari cara mereka mengelola dan menyimpan kekayaan korporat. (han)












