SALATIGA, WWW.PASJABAR.COM— Sejarah Kota Salatiga kembali menjadi sorotan melalui Diskusi Buku #94 Temu Sejarah yang akan membahas “Cagar Budaya Salatiga dalam Tindak Slamet Rahardjo.”
Acara ini menghadirkan penulis Esthi Susanti Hudiono sebagai narasumber, dengan Bintang Adi Kuncoro sebagai moderator, dan digelar pada Kamis, 4 Desember 2025 pukul 20.00–21.30 WIB melalui platform Zoom.
Salatiga dikenal memiliki akar sejarah yang panjang. Jejak tertulis paling awal ditemukan pada Prasasti Plumpungan, sebuah batu andesit besar bertahun 750 Masehi yang menyebutkan nama “Hampra”, wilayah kuno yang kelak menjadi kota Salatiga.
Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa wilayah Hampra diberikan status perdikan, sebuah bentuk penghormatan dari raja dengan membebaskan desa dari pajak dan upeti.
Temuan ini menegaskan bahwa warisan budaya Salatiga tidak hanya berbentuk bangunan bersejarah, tetapi juga nilai administratif, keadilan, serta struktur sosial yang pernah ditetapkan pada masa lampau. Status perdikan menjadi bukti bahwa komunitas tersebut sejak awal memperoleh pengakuan dan keistimewaan dari otoritas kerajaan.
Melalui diskusi kali ini, Temu Sejarah berupaya membuka kembali ruang percakapan mengenai cagar budaya Salatiga dan narasi yang membentuk identitas kotanya.
Buku ini menjadi pintu masuk untuk menelusuri bagaimana situs-situs budaya dipahami, dirawat, dan dikisahkan ulang pada masa sekarang.
Acara ini terbuka untuk umum dan dapat diikuti secara gratis. Pendaftaran dilakukan dengan format:
Daftar Diskusi Buku #94 – Nama – Domisili, kemudian dikirim ke WhatsApp 0895-3572-55688.
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram @temusejarah. (tiwi)












