BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Di tengah melemahnya kekuasaan tradisional Jawa akibat intervensi VOC pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, sosok Raden Ronggo Prawirodirjo III muncul sebagai figur perlawanan lokal yang penting. Dikenal sebagai “Banteng Terakhir dari Madiun”, ia tercatat menentang kebijakan Kesultanan Yogyakarta yang dianggap tunduk pada kepentingan kolonial.
Raden Ronggo Prawirodirjo III bukan sekadar bupati Madiun, melainkan tokoh yang secara terbuka menantang otoritas istana dan kekuatan militer Yogyakarta. Sikap perlawanan tersebut menjadikannya simbol perlawanan terakhir bangsawan lokal Jawa sebelum dominasi kolonial semakin menguat. Perjuangannya berakhir dengan kematian pada 1810, sebuah peristiwa yang menandai runtuhnya wibawa tradisional di wilayah Madiun.
Riwayat hidup dan perlawanan Raden Ronggo Prawirodirjo III dibahas secara mendalam dalam buku karya Akhlis Syamsal Qomar berjudul “Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Riwayat Raden Ronggo Prawirodirjo III (1779–1810)”. Buku ini mengulas dinamika politik Jawa, konflik internal Kesultanan Yogyakarta, serta posisi Raden Ronggo dalam pusaran kepentingan kolonial.
Dalam rangka memperingati Haul ke-215 wafatnya Raden Ronggo Prawirodirjo III, komunitas Temu Sejarah akan menyelenggarakan Diskusi Buku ke-96 bekerja sama dengan Laboratorium dan Ruang Baca Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS).
Diskusi ini akan menghadirkan langsung penulis buku, Akhlis Syamsal Qomar, dengan keynote speaker sejarawan Peter Carey. Acara akan dimoderatori oleh mahasiswa sejarah UNS, Ilham Putra Pratama.
Kegiatan diskusi dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 18 Desember 2025, pukul 20.00–21.30 WIB secara daring melalui Zoom. Acara ini bersifat gratis dan terbuka untuk umum.
Masyarakat yang ingin mengikuti diskusi dapat mendaftar dengan mengirimkan pesan bertuliskan “Daftar Diskusi Buku #96 – Nama – Domisili” ke nomor 0895-3572-55688. Informasi lanjutan dapat diakses melalui akun Instagram @temusejarah. (tiwi)












