Selama 12 tahun, Malia Nur Alifa keluar-masuk hutan dan perkampungan di Lembang untuk menyusun kepingan sejarah yang tak tercatat di buku sekolah. Dari misteri penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda hingga jejak “Congo-Congti” yang terbuang.
BANDUNG BARAT, WWW.PASJABAR.COM— Di balik kabut tipis yang menyelimuti kawasan Bandung Utara, tersimpan narasi panjang yang selama ini tertimbun oleh gegap gempita industri wisata swafoto. Malia Nur Alifa, seorang penggiat sejarah sekaligus pemandu wisata, mencoba menghidupkan kembali memori kolektif tersebut melalui bukunya, Lembang Masa Lalu.
Dalam diskusi daring bertajuk “Temu Sejarah: Lembang Masa Lalu”, Malia menceritakan awal mula risetnya yang dimulai sejak 2009. Dipicu oleh rasa penasaran lantaran minimnya literatur mengenai sejarah Lembang, ia memberanikan diri menemui sejarawan senior Bandung, Sudarsono Katam. Tantangan itulah yang menjadi bahan bakar Malia melakukan riset lapangan selama lebih dari satu dekade.
Jejak Kelam di Benteng Gunung Putri
Salah satu temuan paling mengejutkan dalam riset Malia adalah detail penyerahan tanpa syarat Hindia Belanda kepada Jepang pada Maret 1942. Jika selama ini buku sejarah arus utama lebih banyak menyoroti Perjanjian Kalijati di Subang, Malia menemukan bahwa “kunci” jatuhnya kekuasaan Belanda justru terjadi di Lembang.
Berdasarkan penuturan saksi mata yang ia temui, tentara Jepang memasuki kawasan Cikole tanpa suara menggunakan sepeda lipat sambil menyeret katana ke aspal hingga mengeluarkan percikan api. Di Benteng Gunung Putri, Malia mengungkap sisi gelap peperangan tersebut, eksekusi massal tentara KNIL yang membuat kawasan itu pernah dipenuhi ceceran jenazah yang tak sempat terkubur sempurna.
Dari Tanaman Pewarna hingga Narasi Perempuan
Riset Malia tidak hanya berkutat pada militeristik. Ia menelusuri asal-usul nama “Lembang” yang ternyata diambil dari sejenis rumput air—Typha angustifolia yang kini justru sulit ditemukan di habitat aslinya. Ia juga mengungkap bahwa pada abad ke-17, Lembang merupakan pemasok utama bunga Kesumba Keling bagi VOC untuk dikirim ke Eropa sebagai pewarna gaun-gaun mewah kaum bangsawan.
Tak berhenti di situ, Malia juga menerbitkan buku Sembilan Kisah Perempuan Pribumi. Buku ini merangkum narasi-narasi pilu sekaligus heroik para perempuan di masa pendudukan Jepang. Salah satu kisah yang memilukan adalah tentang perempuan yang harus bersembunyi di dalam gua dan menggigit ban agar suaranya tak terdengar oleh tentara Jepang.
Melawan Lupa di Tengah Modernisasi
Malia menyayangkan kondisi Lembang saat ini yang menurutnya sudah dalam tahap “sekarat” akibat pembangunan yang tak terkendali. Salah satu objek yang menjadi perhatiannya adalah transformasi Grand Hotel Lembang yang bersejarah menjadi pusat otomotif dan wisata terpadu.
“Fungsi sejarah salah satunya adalah membangun rasa kenal. Dari kenal jadi sayang, dari sayang jadi peduli,” tegas Malia. Ia konsisten menggunakan strategi “marketing” dalam menyebarkan sejarah: membuat buku saku kecil agar mudah dibaca dan dipahami oleh generasi muda serta para pemandu wisata.
Kini, Malia sedang menyiapkan riset terbarunya mengenai sisi historis legenda Sangkuriang, yang menurut temuannya, memiliki pijakan fakta sebagai tokoh nyata di masa lalu. Baginya, sejarah Lembang bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan alarm bagi masyarakat untuk lebih menghargai alam dan identitas tanah kelahirannya. (tiwi)












