WASHINGTON & CARACAS, WWW.PASJABAR.COM – Sejarah baru tercipta di belahan bumi barat pada Sabtu (3/1/2026). Dalam sebuah operasi militer kilat yang mengejutkan dunia, Amerika Serikat secara resmi mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dalam sebuah operasi militer berskala besar yang diberi sandi “Operation Liberator”
Peristiwa ini memicu guncangan hebat di peta politik Amerika Latin.
Kondisi ini membuka peluang transisi kekuasaan yang telah dinanti selama bertahun-tahun oleh pihak oposisi.
Presiden AS Donald Trump, melalui pernyataan resminya, mengonfirmasi bahwa Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah diamankan oleh unit elite Delta Force dan saat ini telah diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan keberhasilan militer AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dalam sebuah operasi militer berskala besar yang diberi sandi “Operation Liberator” pada Sabtu (3/1/2026).
Pangkalan Militer Venezuela Digempur Jet Tempur dalam Operation Liberator
Operasi yang diberi sandi “Operation Liberator” ini dimulai dengan serangan udara skala besar yang menyasar pusat pertahanan rezim di Caracas.
Saksi mata melaporkan suara ledakan dahsyat di Pangkalan Militer Fuerte Tiuna dan Lapangan Terbang La Carlota, diiringi deru jet tempur yang terbang rendah.
Pentagon menyatakan serangan ini bertujuan melumpuhkan rantai komando loyalis Maduro.
Ini dilakukan untuk meminimalkan hambatan saat penggerebekan darat dilakukan untuk mengamankan sang pemimpin.
Edmundo González: Akhiri Pengasingan Demi “Fajar Demokrasi” usai Operation Liberator
Menyusul kabar jatuhnya Maduro, tokoh oposisi utama yang diakui banyak negara Barat sebagai pemenang sah pemilu 2024, Edmundo González Urrutia, dilaporkan tengah mempersiapkan kepulangan darurat dari pengasingannya di Spanyol.
Dari kediamannya di Madrid, González menyatakan kesiapannya untuk kembali ke Caracas guna mengambil alih mandat kepemimpinan.
“Fajar demokrasi telah tiba. Kami sedang mempersiapkan kepulangan untuk memulihkan kedaulatan rakyat dan memulai rekonsiliasi nasional tanpa kekerasan,” tegas González dalam pernyataan tertulisnya.
Ia diperkirakan akan mendarat di Venezuela dalam 24-48 jam ke depan dengan pengawalan diplomatik internasional.
María Corina Machado: Serukan Rakyat Kepung Markas Militer
Di dalam negeri, tokoh kunci oposisi dan peraih Nobel Perdamaian, María Corina Machado, akhirnya muncul dari lokasi persembunyian rahasianya.
Machado, yang selama ini menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap Maduro, langsung mengeluarkan seruan mobilisasi massa.
“Venezolanos, ini adalah jam kebebasan! Saya menyerukan kepada seluruh rakyat untuk berkumpul secara damai di depan setiap markas militer dan institusi negara,” seru Machado melalui pesan video yang beredar luas.
Ia mendesak militer Venezuela (FANB) untuk tidak melakukan perlawanan.
Ia meminta agar FANB justru berbalik melindungi transisi pemerintahan yang sah di bawah Edmundo González.
Peta Politik: 3 Skenario Pasca-Maduro
Dengan Maduro yang kini berada di tangan AS, masa depan Venezuela bergantung pada tiga skenario utama:
-
Jalur Konstitusional: Wakil Presiden Delcy Rodríguez berupaya mengambil alih mandat sementara untuk menyelenggarakan pemilu dalam 30 hari, meskipun kredibilitasnya diragukan pasca-agresi AS.
-
Kepulangan Oposisi: Edmundo González Urrutia, yang didukung tokoh pro-demokrasi María Corina Machado, tengah bersiap kembali dari pengasingannya di Spanyol untuk memimpin transisi pemerintahan.
-
Kudeta Militer: Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López mengecam invasi AS sebagai “penghinaan terbesar” dan mengisyaratkan perlawanan militer terhadap kehadiran pasukan asing.












