TEHERAN, WWW.PASJABAR.COM – Republik Islam Iran kini tengah menghadapi salah satu fase ketegangan internal paling kritis dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah laporan puluhan korban tewas dan pemutusan akses internet nasional, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump tebar ancaman secara terbuka kepada para pemimpin di Teheran.
Gelombang protes antipemerintah yang awalnya dipicu oleh ambruknya kondisi ekonomi kini telah bertransformasi menjadi gerakan politik yang secara langsung menargetkan kepemimpinan tertinggi negara.
Donald Trump Tebar Ancaman “Tembak Balas”
Situasi di Iran memicu respons keras dari Gedung Putih. Donald Trump, yang dikenal memiliki kebijakan agresif terhadap Teheran, mengeluarkan peringatan baru pada Jumat (9/1/2026).
Trump memperingatkan otoritas keamanan Iran agar tidak menggunakan senjata api terhadap demonstran.
“Sebaiknya kau jangan mulai menembak karena kami juga akan mulai menembak,” tegas Trump sebagaimana dilansir dari Reuters.
Meski melontarkan ancaman keras, Trump menunjukkan sikap hati-hati dengan menolak bertemu Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran.
Sikap ini dipandang sebagai strategi Washington yang masih memantau stabilitas krisis sebelum memberikan dukungan penuh kepada tokoh oposisi tertentu.
Namun, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memantau dengan saksama keselamatan para demonstran di wilayah yang ia sebut sebagai “tempat yang sangat berbahaya saat ini.”
Tindakan Represif dan Pemadaman Informasi
Otoritas keamanan Iran merespons kerusuhan dengan pendekatan “besi panas.”
Kementerian Teknologi Informasi dan Komunikasi Iran secara resmi memutus akses internet nasional demi mengendalikan arus informasi yang memicu mobilisasi massa di berbagai kota seperti Teheran, Shiraz, hingga Mashhad.
Kelompok hak asasi manusia HRANA melaporkan sedikitnya 62 orang tewas sejak demonstrasi pecah pada 28 Desember, termasuk 14 personel keamanan.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam pidato televisinya bersumpah tidak akan mundur sejengkal pun.
Ia menuduh para demonstran bertindak sebagai agen kelompok oposisi luar negeri dan “budak” Amerika Serikat.
Jaksa umum Teheran bahkan mempertegas ancaman tersebut dengan menyatakan bahwa pelaku sabotase dan mereka yang terlibat bentrokan bersenjata akan menghadapi hukuman mati.
Akar Krisis: Ekonomi yang Runtuh Akibat Perang
Berbeda dengan gelombang protes sebelumnya, kerusuhan tahun 2026 ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang berada pada titik terendah.
Efek jangka panjang dari konflik bersenjata dengan Israel dan AS tahun lalu telah menghancurkan nilai tukar rial hingga 50%.
Inflasi yang menembus angka 40% pada Desember 2025 membuat daya beli masyarakat menguap, memicu rasa putus asa yang mendalam.
“Rasa marah ini semakin mendalam selama bertahun-tahun dan kita berada pada tingkat rekor baru dalam hal kekecewaan masyarakat,” ujar Alex Vatanka dari Middle East Institute.
Protes yang awalnya menyuarakan masalah perut kini beralih menjadi slogan politis seperti “Death to Khamenei,” mencerminkan kerentanan rezim ulama yang semakin nyata di bawah tekanan domestik dan sanksi internasional.
Kecaman Dunia dan Upaya Mediasi
Dunia internasional tidak tinggal diam melihat jatuhnya korban jiwa di jalanan Teheran.
Pemimpin Prancis, Inggris, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Teheran untuk menahan diri.
PBB melalui juru bicara Stephane Dujarric juga menyatakan keprihatinan mendalam atas hilangnya nyawa warga sipil yang menjalankan hak mereka untuk berdemonstrasi secara damai.
Di tengah kebuntuan ini, secercah harapan muncul dari jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Oman dijadwalkan berkunjung ke Teheran.
Oman, yang secara historis berperan sebagai mediator antara Iran dan Barat, diharapkan mampu meredam ketegangan sebelum ancaman “tembak-menembak” yang dilontarkan Trump berubah menjadi konflik regional yang lebih luas.
Statistik Korban & Krisis Iran (Data Per 9 Januari 2026)
| Kategori | Catatan Data |
| Total Korban Tewas | 62 Orang (48 Sipil, 14 Keamanan) |
| Inflasi Nasional | >40% (Desember 2025) |
| Status Internet | Pemadaman Nasional (Blackout) |
| Nilai Tukar Rial | Turun 50% terhadap USD dalam setahun |












