BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Kabar baik bagi warga Kota Bandung. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung resmi meluncurkan layanan Puskesmas 24 Jam Bandung Utama.
Hal itu sebagai upaya meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan primer bagi masyarakat, tanpa dibatasi jam kerja.
Peluncuran layanan tersebut dilakukan secara luring di Puskesmas Ibrahim Adjie dan diikuti secara daring oleh Puskesmas Garuda Kota Bandung, serta dihadiri langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Salah satu keunggulan utama Puskesmas 24 Jam Bandung Utama adalah integrasi layanan kesehatan dengan administrasi kependudukan.
Warga yang melahirkan di puskesmas kini dapat langsung memperoleh dokumen kependudukan secara otomatis, mulai dari akta kelahiran, Kartu Identitas Anak (KIA), hingga pembaruan Kartu Keluarga, tanpa perlu mengurus secara terpisah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyampaikan bahwa kehadiran puskesmas yang beroperasi penuh selama 24 jam merupakan kebutuhan mendesak bagi kota besar seperti Bandung, yang aktivitas masyarakatnya berlangsung sepanjang waktu.
“Layanan kesehatan adalah bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi pemerintah daerah. Dan standar itu harus terus ditingkatkan dari waktu ke waktu,” ujar Farhan.
Lima Puskesmas akan Menyusul
Pada tahap awal, dua puskesmas telah beroperasi penuh selama 24 jam, yakni Puskesmas Ibrahim Adjie dan Puskesmas Garuda.
Ke depan, layanan ini akan diperluas ke lima puskesmas lainnya di berbagai wilayah Kota Bandung.
Keberadaan Puskesmas 24 Jam diharapkan menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan, sehingga masyarakat tidak harus selalu langsung menuju rumah sakit ketika mengalami kondisi darurat.
Warga dapat memanfaatkan layanan ini melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Universal Health Coverage (UHC).
Pemkot Bandung juga mendorong masyarakat untuk terlebih dahulu memanfaatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama sebelum dilakukan rujukan ke rumah sakit.
Meski pertumbuhan ekonomi Kota Bandung diperkirakan mencapai 5,3 persen, Farhan mengungkapkan masih terdapat pekerjaan rumah besar terkait kesenjangan sosial dan kesehatan masyarakat.
“Jumlah penduduk miskin memang menurun dan tingkat pengangguran juga berkurang. Namun kualitas kemiskinan justru memburuk. Fenomena yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya masih terjadi,” katanya.
Menurut Farhan, kondisi tersebut menuntut intervensi pelayanan publik yang lebih presisi, berbasis karakteristik wilayah.
Oleh karena itu, pembangunan layanan kesehatan di Kota Bandung tidak dapat dilakukan secara seragam.
Melalui Program Prakarsa serta pendataan sensus hingga tingkat RW yang kini telah mencapai 100 persen, Pemkot Bandung memiliki basis data yang kuat untuk mengidentifikasi kebutuhan riil masyarakat, mulai dari persoalan sanitasi, rumah tidak layak huni, hingga prevalensi penyakit seperti diare, tuberkulosis (TBC), dan stunting.
“Puskesmas 24 jam ini adalah bagian dari penyelesaian masalah mendasar. Kita selesaikan dulu ‘skin care’-nya sebelum make up dan lipstik,” pungkasnya. (rif)












