
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Hikmah Ibadah, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Tidak ada satu pun di antara sekian banyak ciptaan dan kebijakan Allah yang hampa dari nilai-nilai kebaikan atau hikmah. “Tidaklah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia …” (QS Ali Imran, 3:191). Namun, untuk memperoleh hikmah tersebut sangat bergantung pada ilmu yang dimiliki manusia. Betapapun, ibadah tidak pernah sunyi dari hikmah.
Bagi seorang muslim, pelaksanaan ibadah bukan karena ingin mendapat keuntungan pribadi berupa kebaikan dan kemaslahatan. Namun, jika ada kebaikan yang ditimbulkan oleh ibadahnya, hal itu terjadi semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah. Prinsip ini sesuai dengan tujuan utama ibadah, yakni melaksanakan perintah Allah untuk meraih rida-Nya.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa ibadah yang dilakukan akan menimbulkan banyak kemaslahatan. Misalnya, hikmah puasa adalah mencapai derajat takwa bagi pelakunya (QS al-Baqarah, 2:21 dan 183). Hikmah ibadah lainnya pun, secara umum, dilakukan untuk mencapai derajat takwa agar memperoleh rida Allah.
Pengertian ibadah, seperti yang telah dijelaskan di atas, sekaligus menunjukkan bahwa hakikat ibadah adalah kerendukan, kepatuhan, dan kecintaan yang sempurna.
Dalam konteks ini, hikmah ibadah paling tidak akan dapat melahirkan beberapa sikap berikut.
-
Kesadaran diri bahwa ia adalah makhluk Allah yang karenanya ia harus mengabdi dan menyembah hanya kepada-Nya (QS adz-Dzariyat, 51:56). Jadi, ibadah merupakan tujuan akhir hidupnya.
-
Kesadaran diri bahwa sesudah kehidupan dunia ini akan ada kehidupan akhirat sebagai masa pertanggungjawaban pelaksanaan perintah Allah selama menjalani kehidupan di dunia (QS al-Zalzalah, 99:7–8).
-
Kesadaran diri bahwa ia diciptakan Allah bukan sekadar pelengkap alam semesta, melainkan menjadi sentral alam dan segala isinya (QS al-Baqarah, 2:29).
Jelasnya, seluruh perbuatan yang dilakukan oleh seorang muslim merupakan bentuk ibadah. Ia pasti memiliki nilai atau hikmah ganda secara umum, yaitu material dan spiritual. Hikmah material nyata diterima di dunia, sedangkan hikmah spiritual bersifat abstrak dan akan diterima di akhirat kelak. Oleh karena itu, pantaslah kedudukan ibadah dalam Islam menempati posisi yang paling utama dan menjadi titik sentral dari seluruh aktivitas seorang muslim. (han)












