WWW.PASJABAR.COM — Suasana Desa Pasir Angin yang biasanya tenang mendadak berubah mencekam. Kabar mengenai naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang dipegang Jaka rupanya telah sampai ke telinga pimpinan PT. Cakrawala.
Mereka tahu, jika naskah itu diakui sebagai dokumen sejarah yang sah oleh otoritas budaya, proyek resort bernilai miliaran rupiah itu akan gugur demi hukum.
Sabotase di Balong dan Teror Malam Desa di Pasir Angin
Teror dimulai saat fajar menyingsing. Mang Dana berlari ke rumah Jaka dengan wajah pucat.
“Jaka! Balong kita… ikan-ikan mati semua!” Teriaknya histeris.
Rupanya, seseorang telah menuangkan limbah kimia ke saluran air yang mengairi kolam-kolam warga.
Bau busuk menyengat memenuhi udara, menghancurkan sumber mata pencaharian warga dalam semalam.
Tak berhenti di situ, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Jaka dari nomor tak dikenal:
“Serahkan kertas tua itu, atau desa ini akan terus tertimpa sial.” Jaka mengepalkan tinju.
Ia menyadari bahwa lawan mereka tidak lagi bermain halus. Ini adalah upaya sistematis untuk mematahkan semangat Sauyunan yang baru saja tumbuh.
Konfrontasi di Perbatasan Leuweung Titipan Desa Pasir Angin
Puncak ketegangan terjadi ketika dua alat berat (excavator) raksasa meraung-raung di perbatasan Leuweung Titipan.
Puluhan pria bertubuh kekar yang dikawal oleh pengacara perusahaan berdiri menantang warga desa.
Mereka membawa surat tugas yang menyatakan bahwa land clearing harus dimulai hari itu juga.
Warga desa, mulai dari pemuda hingga ibu-ibu, berkumpul membentuk barisan manusia. Jaka berdiri paling depan, memegang naskah lontar yang dibalut kain putih.
“Langkah pertama alat berat ini menyentuh akar pohon, berarti kalian sedang menggali kuburan untuk masa depan kami!” seru Jaka dengan suara menggelegar, matanya menatap tajam ke arah mandor proyek.
Keajaiban Alam: Suara dari Gunung
Di tengah adu mulut yang memanas, tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap gulita.
Angin kencang bertiup dari puncak Gunung Pangrango, menggoyang pohon-pohon raksasa dengan suara menderu yang menyerupai raungan harimau.
Menurut kepercayaan warga setempat, ini adalah tanda bahwa Karuhun (leluhur) sedang murka.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki para pekerja perusahaan bergetar. Sebuah longsoran kecil terjadi tepat di jalur yang akan dilalui excavator, hampir menimbun ban mesin raksasa tersebut. Para pekerja yang ketakutan mulai berhamburan.
“Alam sudah bicara!” teriak Mang Dadang sambil memegang tasbihnya.
“Hentikan sebelum gunung ini benar-benar menghukum kalian!”
Keputusan di Ujung Tanduk
Mandor proyek tampak bimbang. Di satu sisi ia ditekan atasan, di sisi lain ia melihat kemarahan alam dan keteguhan warga yang tak gentar meski diancam.
Jaka maju selangkah, menyodorkan salinan naskah kuno tersebut.
“Lihat naskah ini. Di sini tertulis bahwa area ini adalah daerah resapan utama. Jika kalian bangun beton di sini, pemukiman di bawah sana—termasuk kota tempat kalian tinggal—akan tenggelam saat musim hujan. Kami bukan menghalangi uang kalian, kami menyelamatkan nyawa kalian!”
Keadaan menjadi hening, hanya suara gesekan daun yang terdengar nyaring. Di tengah tekanan itu, sang mandor akhirnya memberi instruksi melalui radio panggilnya untuk mematikan mesin.
Namun, Jaka tahu ini hanya kemenangan sementara. Dalang di balik perusahaan ini pasti tidak akan tinggal diam.









