WWW.PASJABAR.COM – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman spesies primata tertinggi di dunia.
Berdasarkan Mammal Diversity Database 2025, Indonesia memiliki 66 jenis primata atau setara 12,8 persen dari total primata dunia. Namun di balik kekayaan tersebut, ancaman kepunahan terhadap primata Indonesia kian mengkhawatirkan, terutama bagi spesies endemik.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari total 66 jenis primata di Indonesia, sebanyak 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis Endangered (terancam), dan 26 jenis Vulnerable (rentan). Kondisi ini diperparah oleh tekanan deforestasi, fragmentasi habitat, perburuan, serta perdagangan satwa liar ilegal.
Empat Primata Indonesia Paling Terancam di Dunia
Dalam laporan Primates in Peril 2023–2025 yang dirilis IUCN SSC Primate Specialist Group bersama International Primatological Society dan Re:wild, terdapat empat primata Indonesia yang masuk kategori paling terancam punah di dunia.
Keempatnya yakni orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), simakobu (Simias concolor), lutung sentarum (Presbytis chrysomelas), dan tarsius sangihe (Tarsius sangirensis).
Orangutan tapanuli, yang hanya hidup di Lanskap Batang Toru, Sumatera Utara, diperkirakan tersisa 577–760 individu. Simakobu endemik Mentawai mengalami penurunan populasi hingga 75 persen sejak 1980.
Sementara lutung sentarum kini diperkirakan hanya berjumlah 200–500 individu, dan tarsius sangihe yang hidup terbatas di Pulau Sangihe diperkirakan tersisa sekitar 464 individu.
Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna, menegaskan bahwa primata memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
“Primata merupakan agen penyebar biji utama yang menjaga regenerasi hutan hujan tropis dan menjadi indikator kesehatan ekosistem,” ujar Dolly.
Ia menambahkan, peringatan Hari Primata Indonesia yang diperingati setiap 30 Januari menjadi momentum penting untuk mendorong kolaborasi multipihak dalam upaya konservasi.
“Diperlukan kolaborasi pentahelix yang melibatkan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media agar pelestarian primata dan habitatnya dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)












