WWW.PASJABAR.COM — Fenomena astronomi Gerhana Matahari Cincin dijadwalkan akan terjadi pada 17 Februari 2026 dan diprediksi menghiasi langit di sejumlah wilayah dunia. Gerhana ini terjadi ketika Bulan melintas tepat di antara Bumi dan Matahari, namun berada pada titik terjauhnya dari Bumi.
Akibatnya, Bulan tidak menutupi Matahari secara sempurna dan menyisakan pinggiran cahaya yang menyerupai cincin api atau annulus.
Pada puncak gerhana, Bulan diperkirakan menutupi sekitar 96 persen cakram Matahari.
“Saat puncak gerhana, Matahari akan tampak seperti cincin, yaitu gelap di bagian tengahnya dan terang di bagian pinggirnya,” sebagaimana dijelaskan dalam keterangan astronomi fenomena tersebut.
Meski menjadi peristiwa langit yang dinantikan, bayangan Bulan dalam gerhana ini tidak cukup besar untuk menutupi seluruh permukaan Bumi. Jalur bayangan hanya melintas di wilayah tertentu dengan panjang sekitar 2.661 mil dan lebar 383 mil atau sekitar 4.282 x 616 kilometer.
Tidak Melewati Indonesia
Sayangnya, Gerhana Matahari Cincin kali ini tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia. Jalur gerhana cincin sempurna hanya melintasi kawasan terpencil di Antartika. Sementara itu, beberapa wilayah di Afrika bagian selatan dan Amerika Selatan bagian selatan hanya dapat menyaksikan gerhana Matahari sebagian.
Negara yang berpotensi melihat gerhana sebagian antara lain Argentina dan Chili di Amerika Selatan, serta Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Mozambik, Madagaskar, hingga Zimbabwe di kawasan Afrika. Sejumlah wilayah teritorial di Samudra Selatan juga termasuk dalam jalur pengamatan.
Gerhana diperkirakan dimulai pada pukul 09.56 UTC atau 16.56 WIB, mencapai puncaknya pada 12.12 UTC atau 19.12 WIB, dan berakhir pada 14.27 UTC atau 21.27 WIB. Secara global, proses gerhana berlangsung lebih dari enam jam.
Selama gerhana, sejumlah fenomena alam dapat terjadi, mulai dari penurunan suhu udara, perubahan cahaya yang menjadi redup keabu-abuan, hingga perubahan perilaku hewan yang mengira malam datang lebih awal. Namun, masyarakat Indonesia harus menunggu fenomena gerhana berikutnya untuk dapat menyaksikannya secara langsung. (han)











