BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, resmi merilis laporan akhir investigasi terkait uji penerbangan berawak kapsul Boeing CST-100 Starliner yang mengalami berbagai kendala selama misi menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2024.
Seperti dalam siaran persnya kepada Pasjabar, Kamis (19/2/2026), Administrator NASA Jared Isaacman menegaskan bahwa misi tersebut diklasifikasikan sebagai kecelakaan Tipe A — tingkat tertinggi dalam klasifikasi insiden penerbangan badan antariksa tersebut.
“Untuk melaksanakan misi yang mengubah dunia, kita harus transparan tentang keberhasilan dan kekurangan kita. Kita harus mengakui kesalahan dan memastikan hal itu tidak terjadi lagi,” ujar Isaacman.
Misi Berawak yang Berubah Drastis
Kapsul Starliner diluncurkan pada 5 Juni 2024 membawa dua astronaut NASA, Butch Wilmore dan Suni Williams.
Misi yang semula direncanakan berlangsung sekitar dua minggu terpaksa diperpanjang hingga 93 hari setelah terdeteksi anomali pada sistem propulsi saat pesawat berada di orbit.
Selama berada di stasiun luar angkasa, wahana sempat mengalami penurunan kemampuan manuver saat proses pendekatan dan penyambungan.
Setelah evaluasi data penerbangan dan pengujian darat, NASA memutuskan untuk mengembalikan kapsul ke Bumi tanpa awak.
Starliner akhirnya mendarat di White Sands Space Harbor pada September 2024, sementara kedua astronaut kembali menggunakan misi SpaceX Crew-9 pada Maret 2025.
Temuan Utama Investigasi
Tim investigasi independen menemukan bahwa insiden tersebut tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal,
melainkan kombinasi kompleks antara kegagalan perangkat keras, kesenjangan proses kualifikasi teknis, kesalahan kepemimpinan, serta kelemahan budaya organisasi.
Laporan menyatakan kondisi risiko yang muncul selama misi tidak sepenuhnya selaras dengan standar keselamatan penerbangan berawak NASA.
“Di luar masalah teknis, jelas bahwa tujuan program yang lebih luas turut memengaruhi sejumlah keputusan teknik dan operasional,” kata Isaacman.
Selain itu, kerugian finansial yang signifikan serta potensi bahaya bagi awak menjadi alasan utama klasifikasi kecelakaan tingkat tertinggi, meskipun misi berakhir tanpa korban.
Fokus pada Perbaikan dan Keselamatan
NASA menegaskan bahwa semua rekomendasi investigasi akan diterapkan sebelum Starliner kembali menjalani misi berawak berikutnya.
Badan antariksa tersebut juga menekankan pentingnya pembelajaran dari insiden ini untuk meningkatkan keselamatan seluruh program penerbangan berawak di masa depan.
Kerja sama antara NASA dan Boeing masih berlangsung untuk mengidentifikasi akar penyebab teknis secara menyeluruh serta memastikan sistem wahana memenuhi standar keselamatan yang ketat sebelum kembali terbang.
Misi Starliner menjadi pengingat bahwa eksplorasi ruang angkasa, meski semakin maju secara teknologi, tetap menuntut standar keselamatan tertinggi dan evaluasi berkelanjutan. (*/tie)












