NGANJUK, WWW.PASJABAR.COM— Kabupaten Nganjuk di Jawa Timur menyimpan jejak sejarah panjang yang dapat ditelusuri dalam satu hari perjalanan. Dari peninggalan abad ke-10 hingga memori perjuangan kemerdekaan, sejumlah titik bersejarah di kota ini menghadirkan pengalaman edukatif sekaligus reflektif bagi pengunjung.
Museum Anjuk Ladang : Merekam Jejak Peradaban Kuno Nganjuk
Perjalanan dapat dimulai dari Museum Anjuk Ladang. Museum daerah ini menyimpan koleksi arkeologis dan historis yang merekam perkembangan wilayah Nganjuk sejak masa Hindu hingga periode kerajaan besar di Jawa Timur, termasuk Medang dan Majapahit.
Beragam arca, prasasti, dan artefak dipamerkan untuk menggambarkan posisi penting Anjuk Ladang dalam jaringan politik dan budaya masa lampau. Kehadiran pemandu museum turut membantu pengunjung memahami konteks sejarah secara lebih mendalam.
Candi Lor : Monumen Abad ke-10 yang Sarat Makna
Tak jauh dari pusat kota berdiri Candi Lor, salah satu candi tertua di Jawa Timur yang diperkirakan dibangun pada 937 Masehi. Candi bata merah ini dikaitkan dengan Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur.
Secara historis, bangunan ini diyakini sebagai monumen peringatan atas kemenangan Mpu Sindok dalam konflik pada masanya. Struktur candi yang kini tampak “dicengkeram” akar pohon besar menghadirkan kesan visual yang kuat sekaligus menunjukkan bagaimana situs kuno berdampingan dengan alam.
Taman Makam Pahlawan Yudha Pralaya : Ruang Sunyi Mengenang Perjuangan 1949
Memori perjuangan kemerdekaan dapat ditelusuri di Taman Makam Pahlawan Yudha Pralaya. Kompleks pemakaman ini menjadi tempat peristirahatan para pejuang yang gugur dalam pertempuran tahun 1949, termasuk sejumlah makam tanpa identitas.
Suasana tenang di kawasan ini menghadirkan ruang refleksi tentang pengorbanan yang kerap tak tercatat secara rinci dalam narasi besar sejarah nasional.
Monumen Kapten Kasihin : Mengenang Pejuang Muda Nganjuk
Di kawasan alun-alun kota berdiri Monumen Kapten Kasihin, yang dibangun untuk mengenang Kapten Kasihin, pejuang yang gugur pada usia 32 tahun dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Monumen ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan juga berlangsung di daerah-daerah dan melibatkan tokoh-tokoh lokal yang kontribusinya penting bagi sejarah
Ruang Kota dan Kuliner Lokal : Taman Pandan Wilis dan Pecel Khas Nganjuk
Selain situs sejarah, ruang publik seperti Taman Pandan Wilis Nganjuk menawarkan suasana santai bagi warga dan pengunjung. Taman kota ini menjadi tempat beristirahat sebelum melanjutkan aktivitas.
Kunjungan ke Nganjuk juga belum lengkap tanpa mencicipi pecel khas daerah ini yang dikenal dengan cita rasa pedas-manis yang khas. Kuliner lokal menjadi pelengkap perjalanan sejarah, menghadirkan pengalaman yang menyentuh aspek rasa sekaligus budaya.
Rangkaian lokasi tersebut menunjukkan bahwa Nganjuk bukan sekadar kota persinggahan. Dalam satu hari, pengunjung dapat menyusuri lapisan sejarah dari abad ke-10 hingga masa kemerdekaan, sekaligus merasakan dinamika kota yang hidup.
Perjalanan singkat ini memperlihatkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku, tetapi juga hadir di ruang-ruang kota yang terbuka untuk dijelajahi dan dimaknai kembali. (tiwi)









