BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Laga antara Persib Bandung melawan Arema FC pada lanjutan BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026) malam, tak hanya menyuguhkan pertandingan sengit, tetapi juga memunculkan sorotan karena spanduk bertuliskan “Shut Up KDM”.
Spanduk tersebut membentang di salah satu tribune penonton yang disuguhkan suporter hingga menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Pertandingan sendiri berakhir imbang 0-0. Persib Bandung yang tampil di hadapan pendukungnya gagal memaksimalkan sejumlah peluang. Sementara Arema FC mampu bertahan disiplin sepanjang laga.
Meski demikian, hasil pertandingan seakan menjadi cerita kedua setelah kemunculan spanduk kontroversial tersebut.
Spanduk berwarna putih dengan tulisan mencolok itu terlihat dibentangkan di tribun utara stadion sejak awal babak kedua hingga pertandingan berakhir. Aksi ini langsung menyita perhatian ribuan penonton di stadion, sekaligus memicu beragam reaksi di ruang publik digital.
Kritik Suporter untuk KDM
Tulisan “Shut Up KDM” diduga ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Yang belakangan kerap dikaitkan dengan Persib Bandung dalam sejumlah pernyataannya.
Aksi tersebut dinilai sebagai bentuk ekspresi kekecewaan atau kritik dari sebagian suporter terhadap figur publik yang dianggap terlalu sering membawa nama klub kebanggaan mereka.
Kemunculan spanduk ini semakin ramai diperbincangkan setelah beredar luas di media sosial. Beragam tanggapan pun muncul. Mulai dari yang menilai hal tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi suporter, hingga yang mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan kritik.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi baik dari pihak suporter maupun Dedi Mulyadi terkait pesan yang disampaikan melalui spanduk tersebut. Namun, aksi ini menambah dinamika dalam dunia sepak bola, di mana tribun tidak hanya menjadi tempat dukungan. Tetapi juga ruang penyampaian aspirasi.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa atmosfer pertandingan sepak bola tak hanya ditentukan oleh permainan di lapangan, tetapi juga interaksi sosial yang terjadi di antara para pendukungnya. (han)












