MADRID, WWW.PASJABAR.COM – Saat awan mendung menyelimuti Santiago Bernabeu, ada satu nama yang selalu terlintas di pikiran Florentino Perez: Jose Mourinho. Menurut laporan terbaru dari The Athletic, sang Presiden kini dikabarkan serius mempertimbangkan untuk memanggil kembali “The Special One” demi mengakhiri periode tanpa trofi yang mulai menghantui Madrid dalam dua musim terakhir.
Namun, pertanyaan besarnya bukan lagi “bisakah” Mourinho kembali, melainkan “haruskah” ia kembali?
Florentino Perez Ingat Situasi 2010
Perez seolah melihat dejavu antara situasi saat ini dengan tahun 2010. Kala itu, Madrid berada di titik terendah akibat dominasi Barcelona asuhan Pep Guardiola.
Mourinho datang sebagai “obat keras” yang sukses merusak ritme lawan.
Ia berhasil mengakhiri puasa gelar tiga tahun, dan memberikan trofi La Liga dengan rekor poin.
Bagi Perez, Mourinho adalah sosok yang mampu memicu api di tengah skuad yang tampak kehilangan gairah. Namun, sejarah juga mencatat bahwa api yang sama akhirnya membakar ruang ganti Madrid hingga hangus pada musim panas 2013.
Sepuluh Tahun Kemunduran: Masihkah Ia ‘Special’?
Argumen terkuat yang menentang kembalinya Mourinho adalah fakta bahwa sang pelatih bukan lagi sosok yang memiliki “sentuhan Midas”. Jika dulu ia datang ke Madrid sebagai jawara Liga Champions bersama Inter, kini profilnya telah jauh menurun.
Mourinho sudah tidak memenangkan gelar liga selama 11 tahun.
Trofi terakhirnya adalah UEFA Conference League 2022 bersama AS Roma—sebuah pencapaian yang, dengan segala hormat, berada jauh di bawah standar yang dituntut di Real Madrid.
Filosofi sepak bolanya yang pragmatis dan cenderung sinis kini dianggap kuno di tengah tren sepak bola modern yang lebih mengedepankan intensitas serangan balik cepat dan penguasaan ruang.
Manajemen Ruang Ganti: Belajar dari Ancelotti dan Zidane
Real Madrid adalah klub yang memuja harmoni di ruang ganti. Keberhasilan Zinedine Zidane dan Carlo Ancelotti meraih trofi Liga Champions membuktikan bahwa pendekatan yang tenang dan penuh empati jauh lebih efektif untuk mengelola ego bintang-bintang seperti Kylian Mbappe dan Vinicius Jr.
Mourinho, sebaliknya, adalah antitesis dari keharmonisan. Ia agresif dan konfrontatif. Sejarah mencatat bagaimana ia berselisih dengan legenda klub sekelas Iker Casillas dan Sergio Ramos yang memicu perpecahan skuad Spanyol kala itu. Memasukkan kembali Mourinho ke dalam ekosistem Madrid saat ini ibarat menanam bom waktu di tengah ruang ganti yang penuh talenta sensitif.
Upaya Florentino Perez Memanggil Mourinho Solusi atau Bencana?
Memanggil kembali Mourinho mungkin akan memberikan dampak instan berupa peningkatan disiplin dan atensi media. Namun, mengingat sejarah perpisahannya yang rumit pada 2013 dan rekam jejak prestasinya yang menurun dalam satu dekade terakhir, langkah ini tampak seperti perjudian yang sangat berisiko.
Real Madrid butuh visi masa depan, bukan sekadar pelarian ke masa lalu yang penuh luka. Jika Perez tetap bersikukuh, ia mungkin akan mendapatkan kemenangan jangka pendek, namun ia juga harus bersiap untuk sebuah “perceraian” menyakitkan lainnya di masa depan.












