TAIPEI/BEIJING, WWW.PASJABAR.COM – Dunia internasional sedang menyoroti dampak jangka panjang dari agresi militer Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump ke Venezuela. Meski serangan tersebut terjadi di belahan bumi yang jauh, getarannya dirasakan hingga ke Asia Timur. Para analis kini memperdebatkan apakah tindakan “hegemonik” Washington ini akan menjadi lampu hijau bagi Xi Jinping untuk mempercepat klaim teritorialnya atas Taiwan dan Laut China Selatan (LCS).
“Amunisi” Diplomatik Baru bagi Beijing
Penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada awal Januari 2026 dianggap sebagai peluang emas bagi Beijing untuk menyerang balik kredibilitas Washington.
Selama bertahun-tahun, AS memosisikan diri sebagai penjaga hukum internasional dan pengkritik utama aktivitas militer China di Selat Taiwan.
Analis dari International Crisis Group, William Yang, menilai serangan AS ke Venezuela telah merusak moralitas argumen Washington.
“Ini menciptakan ‘amunisi murah’ bagi China. Setiap kali AS menuduh China melanggar hukum internasional di Taiwan atau LCS, Beijing kini punya contoh nyata untuk menuduh AS melakukan hal yang sama di Amerika Latin,” jelasnya.
Kantor berita Xinhua bahkan sudah mulai melabeli AS sebagai pelaku “perilaku hegemonik nyata” yang mengancam perdamaian dunia.
Taiwan Bukan Venezuela: Perbedaan Fundamental
Meskipun China mendapatkan keuntungan narasi, para pakar meyakini bahwa Beijing tidak akan serta-merta melakukan invasi militer ke Taiwan hanya karena meniru langkah Trump.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa perbandingan antara Venezuela dan Taiwan dianggap tidak relevan oleh para analis:
-
Status Kedaulatan: China selalu menganggap Taiwan sebagai “urusan internal”, sementara Venezuela adalah negara berdaulat yang diintervensi AS. Beijing tidak ingin menciptakan preseden yang melegalkan intervensi asing terhadap negara berdaulat.
-
Kapabilitas Militer: Profesor Shi Yinhong dari Universitas Renmin menegaskan bahwa linimasa China terhadap Taiwan bergantung pada kesiapan militer mereka sendiri, bukan dipicu oleh aksi AS di negara lain.
-
Kepemimpinan Moral: Beijing berupaya tampil kontras dengan Washington. China ingin terlihat sebagai kekuatan yang mendukung perdamaian untuk menarik simpati negara-negara berkembang (Global South).
Respon Tegas dari Taipei
Pemerintah Taiwan melalui anggota senior parlemen, Wang Ting-yu, menolak keras perbandingan negaranya dengan Venezuela.
Melalui media sosial, ia menegaskan bahwa kekuatan militer dan posisi strategis Taiwan jauh berbeda.
“China tidak pernah kekurangan niat buruk, tetapi mereka kekurangan cara yang layak untuk melakukannya. China bukan AS, dan Taiwan jelas bukan Venezuela,” tegas Wang.
Namun, para pengamat memperingatkan bahwa situasi ini akan menekan Taipei untuk semakin “merapat” ke administrasi Trump demi jaminan perlindungan keamanan yang lebih kuat.
Risiko Jangka Panjang: Narasi Pembenaran Xi Jinping
Walau invasi fisik dianggap belum akan terjadi dalam waktu dekat, para ahli ilmu politik seperti Lev Nachman memperingatkan adanya efek jangka panjang yang berbahaya.
Tindakan tegas Trump di Venezuela dapat menginspirasi diskusi di media sosial China (seperti Weibo) yang mendesak Beijing untuk bertindak serupa terhadap Taiwan.
Narasi yang dibangun Xi Jinping di masa depan mungkin akan menggunakan aksi militer AS ini sebagai pembenaran moral: jika AS bisa bertindak demi kepentingan nasionalnya di luar negeri, maka China merasa lebih berhak melakukannya di wilayah yang mereka klaim sebagai milik sendiri.
Analisis Perbandingan Geopolitik
| Faktor | Intervensi AS di Venezuela | Ambisi China di Taiwan |
| Justifikasi | Penggulingan rezim & pengaruh minyak | Penyatuan kembali wilayah nasional |
| Kredibilitas | Dianggap melanggar hukum internasional | Mengklaim sebagai urusan domestik |
| Dampak Global | Ketidakstabilan energi & diplomasi | Risiko konflik kekuatan nuklir & ekonomi |












