WWW.PASJABAR.COM – Anggota DPR RI, TB Hasanuddin, menegaskan Indonesia sebaiknya segera keluar dari keterlibatan dalam Board of Peace (BoP). Ia menilai, keputusan untuk tetap berada dalam forum tersebut berpotensi membahayakan integritas politik luar negeri Indonesia serta menyimpang dari prinsip konstitusional politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia sudah terlanjur masuk ke dalam BoP. Namun daripada berlarut-larut dan menimbulkan persoalan yang lebih besar, sebaiknya pemerintah segera mengambil langkah untuk keluar. Ini penting demi menjaga konsistensi prinsip bebas aktif yang menjadi amanat konstitusi kita,” ujar TB Hasanuddin, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, terdapat lima alasan utama mengapa Indonesia perlu segera menarik diri dari BoP. Pertama, partisipasi Indonesia dinilai mencederai prinsip bebas aktif sebagaimana diamanatkan konstitusi.
“Amanat untuk turut aktif menjaga perdamaian dunia tidak tercermin apabila Indonesia menjadi bagian dari organisasi yang dinilai membiarkan terjadinya agresi militer terhadap bangsa lain, dalam hal ini invasi AS-Israel ke Iran,” katanya.
Kedua, pemerintah dianggap tidak menunjukkan sikap tegas dalam mengutuk invasi tersebut. Hal ini, lanjutnya, memperkuat persepsi adanya keberpihakan Indonesia dan menimbulkan kesan lemahnya komitmen terhadap penghormatan kedaulatan negara lain.
Soroti Risiko Geopolitik dan Beban Anggaran
Ketiga, posisi yang dinilai tidak netral dan tidak konsisten dalam membela kedaulatan bangsa lain berpotensi memperburuk persepsi rakyat Palestina terhadap Indonesia. Ia mengingatkan mobilisasi pasukan TNI sebagai bagian dari ISF BoP bisa memicu penolakan.
“Bahkan, penolakan disebut telah muncul sejak dua pekan lalu ketika perwakilan Hamas secara terbuka menyatakan penolakan terhadap keberadaan pasukan asing di Gaza dan mengklaim telah berkomunikasi dengan pemerintah Indonesia,” ucapnya.
Keempat, alokasi anggaran untuk partisipasi TNI dalam pasukan ISF dinilai akan menekan kapasitas fiskal negara, terlebih di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kelima, Indonesia berisiko terjebak dalam pusaran geopolitik Timur Tengah yang dinilai tidak menguntungkan. Dan berpotensi membahayakan posisi Indonesia di mata dunia.
“Kita sudah dianggap sebagai pendukung kepentingan AS dan Israel yang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah,” tegasnya.
TB Hasanuddin menekankan, keluar dari BoP bukan berarti Indonesia abai terhadap isu perdamaian dunia. Melainkan untuk mengembalikan konsistensi politik luar negeri bebas aktif yang independen dan berpihak pada perdamaian serta penghormatan kedaulatan setiap bangsa. (*)












