# Ahli ITB
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Ahli dari ITB mengungkapkan beberapa ancaman gunung tidur yang ada di Indonesia, yang saat ini beberapa gununya mulai aktif.
Seperti dari siapar persnya kepada www.pasajabar.com, Minggu (7/12/2025) disebutkan Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., pakar petrologi, vulkanologi, dan geokimia dari FITB ITB, jika fenomena Gunung Hayli Gubbi di Ethiopia meletus usai tertidur lebih dari 12.000 tahun harus diwaspadai.
Ia menyebutkan, kebangkitan gunung api dormant atau gunung api tertidur ini juga dapat terjadi di Indonesia yang memiliki jumlah gunung api terbanyak kedua di dunia.
Gunung Api Dormant: Diam Namun Bisa Meletus Kapan Saja
Menurut Dr. Mirzam, gunung api di dunia secara umum dibagi menjadi tiga kategori: aktif, dormant (tertidur), dan padam (extinct). Namun batasan ini tidak sepenuhnya tegas.
“Banyak orang mengira kalau gunung tidak meletus dalam ribuan tahun berarti aman. Padahal tidak begitu,” jelasnya.
Gunung api dormant adalah gunung yang tampak tidak aktif dalam rentang ribuan tahun, tetapi magmanya masih hidup di kedalaman.
Kasus Gunung Hayli Gubbi adalah contoh nyata bagaimana gunung tertidur dapat kembali bangkit.
Dr. Mirzam juga mengingatkan masyarakat Indonesia pada peristiwa Gunung Sinabung, yang kembali meletus pada 2010 setelah 400 tahun tidur.
Restless Volcano: Gunung Tenang yang Sebenarnya Gelisah
Dalam kategori dormant, terdapat subkelompok bernama restless volcano, yaitu gunung api yang terlihat tidak berbahaya tetapi menunjukkan pergerakan magma di bawah permukaan.
“Gunung-gunung seperti ini di Indonesia sangat banyak. Setidaknya ada 30 gunung tipe B yang tersebar di Sumatra, Jawa, Bali–Nusa Tenggara, hingga Maluku,” ujarnya.
Gunung tipe ini tidak meletus ratusan tahun, namun gempa vulkanik, deformasi, hingga perubahan suhu tanah menunjukkan aktivitas magmatik yang harus diwaspadai.
Gunung Api Padam: Tidak Lagi Memiliki Pasokan Magma
Gunung padam adalah gunung api yang sistem magmanya sudah mati. Contohnya seperti Gunung Thielsen di Amerika Serikat dan Gunung Baluran di Jawa Timur.
Meski demikian, kategori ini tetap harus ditentukan melalui penelitian mendalam karena perubahan geologi dapat terjadi dalam jangka waktu panjang.
Indonesia: Negara dengan Risiko Vulkanik Terbesar
Indonesia berada di jalur Ring of Fire, membuatnya menjadi negara dengan tingkat ancaman vulkanik tertinggi di dunia.
“Sebanyak 16% gunung api dunia, atau setara 127 gunung api, berada di Indonesia,” ungkap Dr. Mirzam yang juga menjabat sebagai Scientific Advisor Global Volcano Risk Alliance.
Risiko ini semakin tinggi karena 29 juta penduduk Indonesia tinggal dalam radius 10 km dari kawah gunung api.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kurang dari 50% gunung api di dunia memiliki sistem pemantauan memadai, termasuk di Indonesia. Hal ini membuat pertumbuhan aktivitas magmatik sering kali tidak terdeteksi sejak dini.
Belajar Hidup Harmonis dalam Bahaya
Dr. Mirzam menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak boleh lengah.
“Belajar memahami dinamika gunung api adalah cara terbaik untuk hidup harmonis di kawasan Ring of Fire,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan edukasi publik, sistem pemantauan, dan kesiapsiagaan bencana adalah langkah mendesak untuk mencegah korban dan kerusakan lebih besar ketika gunung api dormant kembali bangkit. (*/tie)












