WWW.PASJABAR.COM – Universitas Padjadjaran (Unpad) berduka atas wafatnya salah satu tokoh kedokteran terkemuka, Rachmat Soelaeman, yang meninggal dunia pada usia 82 tahun di Bandung, Kamis (26/3/2026). Almarhum dikenal sebagai sosok dokter, ilmuwan, sekaligus pendidik yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia kesehatan, khususnya di bidang penyakit dalam.
Jenazah almarhum disalatkan dan dilepas oleh sivitas akademika di Masjid Al Jihad Unpad, Jalan Dipati Ukur, sebelum dimakamkan di TPU Cibarunai, Sukajadi, Bandung, pada Jumat (27/3/2026). Suasana duka menyelimuti keluarga besar Unpad yang kehilangan salah satu putra terbaiknya.
Rektor Arief S. Kartasasmita menyampaikan rasa kehilangan mendalam atas wafatnya almarhum. Ia menyebut, Prof. Rachmat bukan hanya seorang dokter dan akademisi, tetapi juga seorang teladan yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan pelayanan kesehatan.
“Pada hari ini, dengan penuh rasa duka cita, kita akan melepas salah seorang putra terbaik Universitas Padjadjaran. Seorang guru, seorang dokter, seorang ilmuwan, sekaligus teladan bagi kita semua,” ujar Arief dalam keterangan resminya.
Dedikasi Panjang di Dunia Kedokteran
Semasa hidupnya, Prof. Rachmat dikenal memiliki dedikasi tinggi dalam dunia pendidikan dan pelayanan medis. Ia menempuh seluruh jenjang pendidikan kedokterannya di Unpad, mulai dari dokter umum pada 1969 hingga meraih gelar doktor pada 2001. Keahliannya sebagai konsultan ginjal dan hipertensi menjadikannya salah satu rujukan penting di bidang nefrologi.
Selain aktif mengajar, ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan dan Ketua Program Studi di Fakultas Kedokteran Unpad. Tak hanya itu, ia turut berperan aktif dalam berbagai organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), serta Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri).
Rektor menambahkan, jejak pengabdian almarhum akan terus hidup melalui ilmu yang diwariskan kepada para mahasiswa dan tenaga medis.
“Ilmu yang beliau berikan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi terus diamalkan oleh generasi penerus,” katanya.
Kepergian Prof. Rachmat Soelaeman meninggalkan duka mendalam, sekaligus warisan berharga bagi dunia kedokteran Indonesia. (*)












