BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di wilayah Bandung Raya. Memasuki periode peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan ke musim kemarau, warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena cuaca ekstrem yang diprediksi akan sering terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa masa transisi ini ditandai dengan perubahan pola angin yang signifikan. Melemahnya angin baratan yang digantikan oleh masuknya angin timuran memicu ketidakstabilan atmosfer yang cukup tinggi di wilayah Jawa Barat, khususnya Bandung.
Karakteristik Cuaca Ekstrem dan Awan Cumulonimbus
Menurut Teguh, fenomena pancaroba memiliki pola cuaca yang khas. Biasanya, pada pagi hingga siang hari cuaca akan terasa sangat terik dan gerah (sumuk). Namun, kondisi tersebut merupakan fase pengumpulan energi yang kemudian memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) secara masif dan cepat.
Awan Cb inilah yang menjadi aktor utama di balik terjadinya hujan lebat secara tiba-tiba yang seringkali disertai dengan sambaran petir dan angin kencang (puting beliung). Bahkan, ketidakstabilan atmosfer yang ekstrem dapat menyebabkan butiran es jatuh ke permukaan bumi.
“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup masif,” ujar Teguh Rahayu saat memberikan keterangan di Bandung, Senin (6/4/2026), dilansir dari ANTARA.
Sebagai catatan, pada Jumat (3/4/2026) lalu, sebagian wilayah Bandung telah diterjang hujan es. BMKG mencatat pembentukan awan Cb sudah terpantau sejak pukul 12.00 WIB. Saat kejadian tersebut, kecepatan angin tercatat menembus angka 42,6 km/jam, yang mengakibatkan dampak kerusakan fisik seperti pohon tumbang di sejumlah titik di Bandung Raya.
Mekanisme Hujan Es dan Imbauan Keselamatan
Secara teknis, BMKG menjelaskan bahwa hujan es terbentuk ketika uap air terbawa oleh arus udara naik yang sangat kuat (updraft) hingga mencapai puncak awan dengan suhu yang sangat dingin di bawah titik beku. Di sana, uap air membeku menjadi partikel es. Ketika arus udara tersebut melemah atau partikel es sudah terlalu berat, ia akan jatuh ke bumi sebelum sempat mencair sepenuhnya.
Mengingat potensi bahaya yang ditimbulkan, BMKG meminta masyarakat untuk tidak mengabaikan tanda-tanda alam. Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, hingga kerusakan bangunan akibat angin kencang menjadi ancaman nyata selama periode peralihan ini.
“Kami meminta warga untuk menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko saat cuaca ekstrem terjadi. Tetaplah waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga hujan es,” tegas Teguh Rahayu.
Masyarakat juga diimbau untuk rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Pemangkasan dahan pohon yang rimbun di sekitar pemukiman juga sangat disarankan untuk meminimalisir risiko pohon tumbang saat angin kencang menerjang. (han)











