Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Landasan dan Motivasi Lahirnya Tasawuf, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Timbulnya tasawuf dalam Islam bersamaan dengan kelahiran Islam itu sendiri. Dengan kata lain, tasawuf lahir sejak Muhammad saw. diutus sebagai rasul Allah untuk segenap umat manusia dan seluruh alam semesta. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Muhammad saw., sebelum diangkat menjadi rasul, berulang kali melakukan tahannuts dan khalwat di Gua Hira untuk mengasingkan diri dari masyarakat kota Mekah yang sedang mabuk memperturutkan hawa nafsu keduniaan.
Tahannuts dan khalwat juga dilakukan untuk membersihkan hati dan menyucikan jiwa dari noda-noda yang melekat kuat dalam jiwa masyarakat Arab saat itu. Lewat tahannuts dan khalwat tersebut, beliau berusaha memperoleh petunjuk dan hidayah dari Sang Pencipta alam semesta. Beliau sedang mencari hakikat kebenaran yang dapat mengatur hidupnya dengan baik dan benar. Dalam situasi seperti ini, Muhammad saw. menerima wahyu Allah yang berisi ajaran-ajaran dan norma-norma sebagai pedoman bagi seluruh umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidupnya.
Atas dasar itu, para ulama sepakat bahwa sumber yang menjadi landasan utama dalam tasawuf adalah sikap atau perbuatan Rasulullah saw., baik sebelum maupun sesudah menerima wahyu. Bagaimanapun, semua tingkah laku, amal perbuatan, dan sifat-sifat Rasulullah saw. merupakan manifestasi dari kebersihan hati dan kesucian jiwa yang telah dibawanya sejak kecil.
Dalam perkembangan selanjutnya, tasawuf mendapat pengaruh atau sentuhan dari ajaran di luar Islam. Seorang ulama tasawuf, Amar Kailany, mengatakan bahwa tasawuf dalam perkembangannya mempunyai unsur-unsur dekat dan unsur-unsur jauh. Unsur-unsur dekat adalah Al-Qur’an, Sunnah atau Sirah Nabawiyah, Khulafa al-Rasyidin, dan para tabi’in. Sementara unsur-unsur jauh adalah pengaruh Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, Persia, dan unsur-unsur agama lainnya.
Ada dua faktor yang memotivasi seseorang memasuki dunia tasawuf.
- Internal, yaitu Al-Qur’an atau hadis yang mendorong seseorang untuk melaksanakan pola hidup kerohanian dengan mendekatkan diri kepada Allah.
“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 115).
“Dan bahwa jika mereka tetap beristiqamah menempuh suatu jalan, sesungguhnya akan Kami curahkan air yang sejuk ke dalam jiwanya” (QS. Al-Jin: 16).
“Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari” (HR. Bukhari).
“Senantiasalah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan nawafil (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, lidahnya yang ia gunakan untuk berkata, tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Eksternal, yaitu situasi lingkungan. Dalam konteks ini, setidaknya ada dua keadaan yang mendorong seseorang memasuki dunia tasawuf. Pertama, kenikmatan duniawi dan gaya hidup mewah di kalangan para pemangku jabatan setelah Nabi saw. wafat dan setelah masa pemerintahan Khulafa al-Rasyidin. Akibatnya, muncul sekelompok orang yang tidak ingin memperturutkan hawa nafsu untuk hidup mewah di dunia. Mereka justru menjauhkan diri dari kemewahan dan memilih hidup sederhana.
Kedua, reaksi atas berkecamuknya pertentangan politik, terutama setelah peristiwa wafatnya Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Situasi tersebut mendorong sebagian umat Islam untuk menarik diri dari konflik duniawi dan lebih memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. (han)











