
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Penelitian & Pengembangan Paguyuban Pasundan (Pengertian Tasawuf, dalam buku Afeksi Islam)
WWW.PASJABAR.COM – Pengertian tasawuf yang didefinisikan oleh para ahli tasawuf sangat bervariasi karena bersifat empiris-spiritual. Mereka memberi definisi tasawuf berdasarkan cita rasa ruhani setelah melakukan hubungan dengan Tuhan (taqarrub). Jadi, faktor cita rasa (sense of spiritual) lebih dominan daripada rasio. Bahkan, kadang-kadang rasio kurang mampu menangkap ungkapan-ungkapan rasa tersebut.
Sebenarnya, kata tasawuf belum dikenal pada masa Rasulullah saw. Pada masa itu, istilah yang dikenal adalah zuhud, wara’, dan beberapa konsep kunci lain dalam tasawuf. Salah seorang tabi’in bernama Abu Hasan al-Fusyandi yang hidup sezaman dengan Hasan al-Bashri (w. 110 H) mengatakan bahwa hari ini tasawuf hanya sekadar nama, tetapi tidak ada buktinya, padahal pada zaman Rasulullah saw. tasawuf ada buktinya, tetapi tidak ada namanya. Lalu, dari manakah asal-usul kata tasawuf?
Ada beberapa pendapat di kalangan ulama:
-
Tasawuf berasal dari kata Arab ash-shuf, yang berarti bulu atau kain wol kasar. Menurut sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu memakai baju bulu agar memperoleh manisnya iman dalam hatimu.” Orang yang berbaju bulu melambangkan kemiskinan dan kesederhanaan. Hal ini berlawanan dengan pakaian sutra yang biasa dipakai orang kaya. Karena itu, seorang fakir yang memakai baju bulu disebut sufi.
-
Tasawuf berasal dari kata ahl ash-shuffah, yaitu sekelompok sahabat miskin yang hijrah ke Madinah dan tidak memiliki tempat tinggal. Oleh Rasulullah, mereka ditempatkan di serambi masjid yang disebut shuffah, sedangkan penghuninya disebut ahl ash-shuffah. Dari kata ash-shuffah inilah lahir istilah tasawuf, meskipun secara bahasa (lughawi) tidak memiliki hubungan langsung dan sulit dihubungkan secara etimologis. Pengambilan istilah ini didasarkan pada kemiripan sifat orang-orang sufi dengan sifat ahl ash-shuffah, seperti istiqamah (teguh pendirian), wara’, zuhud, dan tekun beribadah.
-
Tasawuf juga dikaitkan dengan bahasa Yunani theosophos. Theo berarti Tuhan dan sophos berarti hikmah atau kebijaksanaan. Jadi, tasawuf dimaknai sebagai kebijaksanaan yang berhubungan dengan Tuhan atau hikmah ketuhanan. Disebut demikian karena ajaran tasawuf banyak membicarakan masalah ketuhanan (teologi).
Dalam perkembangan selanjutnya, tasawuf mengandung makna dan nuansa baru yang semakin bervariasi sehingga para ahli mengalami kesulitan ketika mendefinisikannya secara lengkap. Kalaupun dapat didefinisikan, biasanya hanya menyentuh salah satu sudutnya. Oleh karena itu, definisi-definisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai petunjuk awal untuk pemahaman lebih lanjut.
Menurut Jalaluddin Rachmat, tasawuf mengandung tiga makna:
-
Tasawuf dipahami sebagai sikap untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Tuhan. Artinya, bila seseorang memiliki keinginan kuat untuk mendekati Tuhan, maka serangkaian amal perbuatan yang dikerjakannya disebut tasawuf.
-
Tasawuf dipahami sebagai cara untuk mencapai makrifat, yaitu pengetahuan langsung dari Allah, atau sejumlah cara dan upaya agar Allah membuka hijab-hijab tersebut. “Aku singkapkan selimut yang menutupi matamu, maka pada hari ini penglihatanmu menjadi tajam.” (QS Qaf, 50: 22).
-
Tasawuf berhubungan dengan pandangan tentang realitas. “Ke mana pun kamu palingkan wajahmu, di sanalah wajah Allah.” (QS Al-Baqarah, 2: 115). Inilah yang disebut tauhid sejati, yakni keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini kecuali di dalamnya terdapat wajah, kekuasaan, dan keagungan Allah.
Karena sulitnya memberikan definisi yang komprehensif tentang tasawuf, Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani lebih memilih mengemukakan ciri-cirinya, antara lain:
(1) memiliki nilai-nilai moral;
(2) adanya pengalaman fana (sirna) dalam realitas mutlak;
(3) pengetahuan intuitif secara langsung;
(4) timbulnya rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah dalam diri sufi karena tercapainya maqamat (tingkatan-tingkatan) spiritual yang dilaluinya;
(5) penggunaan simbol-simbol dalam pengungkapan yang mengandung makna tersurat dan tersirat. (han)












