BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Hingga saat ini Pemkot Bandung ternyata belum optimalkan tap cash. Hal ini dengan minimnya penggunaan e-money tersebut di angkutan Trans Metro Bandung (TMB).
“Tidak mudah untuk memberlakukan sistem e-money di TMB. Karena banyak hal yang mempengaruhinya,” ujar Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung E.M Ricky Gustiadi, belum lama ini.
Ricky mengatakan, beberapa kendala itu adalah, belum tersosialisasikannya kepada masyarakat, dan kerjasama bank yang masih terbatas.
“Masyarakat masih belum terbiasa membayar dengan e-money, sehingga merasa repot kalau harus membayar dengan e-money,” papar Ricky.
Selain itu, Ricky mengakui, pihaknya belum bekerjasama dengan banyak bank. Sehingga masyarakat masih kesulitan, untuk isi ulang.
Sampai sejauh ini, Dishub bekerjasama baru dengan BRI dan BNI dalam layanan ini. “Karenanya, sekarang kita tengah melakukan penjajakan dengan bank lain. Seperti BJB, Bank Mandiri, BCA , ovo, GoPay, dan lain-lain,” jelasnya.
Karena, lanjut Ricky, semakin banyak metode pembayaran yang bisa digunakan, akan memudahkan Dishub.
Akibat dari masih banyak kendala, pengguna tap cash, masih sangat sedikit. Berdasarkan catatan Dishub baru sekitar 3%-4% dari sekitar 1.500 penumpang TMB perhari yang menggunakan tap cash. “Itu jumlah rata-rata pengguna TMB per harinya,” jelasnya.
Ricky berharap, ke depannya, penumpang TMB mau menggunakan tap cash. Agar bisa mengurangi jumlah kebocoran yang terjadi karena penjualan karcis penumpang.
“Untuk itu, kami akan lebih intens lagi melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” janji Ricky. (mur)











