CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Jumat, 9 Januari 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home HEADLINE

Imperialisme Baru

Hanna Hanifah
28 Oktober 2024
imperialisme baru

ilustrasi. (foto: freepik)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT
Prof Didi Turmudzi
Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si. (foto: pasjabar)

Oleh: Prof. Dr. H. M. Didi Turmudzi, M.Si, Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan (Imperialisme Baru)

BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Masa lalu, ketika bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris dan Prancis mengirim kapal-kapal mereka ke berbagai penjuru dunia untuk menaklukan dan menguasai wilayah-wilayah baru. Mereka mendirikan koloni di Afrika, Asia dan Amerika, memaksakan kekuasaan mereka, dan mengeksploitasi sumber daya alam serta tenaga kerja lokal untuk keuntungan mereka. Inilah yang kita sebut sebagai kolonialisme klasik. Dalam kolonialisme ini, penguasaan wilayah fisik dan pengendalian langsung atas pemerintahan di negara jajahan menjadi ciri utamanya.

Namun, di zaman modern ini, bentuk kontrol seperti itu tidak lagi populer atau bahkan mungkin dilakukan dengan cara yang sama. Negara-negara kuat tidak lagi mengirim tentara untuk menduduki tanah-tanah baru. Sebagai gantinya, mereka menggunakan cara-cara yang lebih halus dan canggih untuk mengendalikan negara-negara lain ini yang disebut sebagai imperialisme baru.

Baca juga:   Politik Hukum Perlindungan Konsumen Ditengah Perubahan Konfigurasi Politik 2024

Salah satu contoh nyata dari imperialisme baru adalah bagaimana perusahaan-perusahaan multinasional besar dari negara maju menguasai ekonomi negara-negara berkembang. Alih-alih mengambil alih tanah secara langsung, mereka masuk melalui pintu ekonomi. Perusahaan-perusahaan ini menanamkan investasi besar di negara-negara tersebut, tetapi dengan syarat-syarat yang bisa menguntungkan mereka. Misalnya, mereka bisa mendapatkan akses ke sumber daya alam dengan harga sangat murah atau mengekspor keuntungannya kembali ke negara asal mereka. Sementara negara tuan rumah hanya mendapatkan sedikit manfaat.

Contoh yang paling nyata adalah bagaimana negara-negara berkembang sering kali terjebak dalam utang kepada lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF atau Bank Dunia. Negara-negara ini dipaksa untuk menerima bantuan keuangan dengan syarat harus mengikuti kebijakan ekonomi tertentu sebenarnya tidak menguntungkan rakyat mereka. Akibatnya, kendali ekonomi negara-negara ini praktis berada di tangan negara-negara kuat yang memberikan pinjaman tersebut. Negara-negara berkembang ini mungkin tampak merdeka secara politik, tetapi kebijakan ekonomi mereka sangat dipengaruhi, bahkan dikendalikan, oleh kekuatan luar.

Baca juga:   Promosi Doktor Ilmu Sosial Erwan Darmawan Analisis Model Formulasi Kebijakan Daerah di Kabupaten Ciamis

Tampak dalam Kontrol Budaya

Selain kontrol ekonomi, imperialisme baru juga tampak dalam bentuk kontrol budaya. Budaya global yang didominasi oleh negara-negara kuat, seperti Amerika Serikat, menyebar ke seluruh dunia melalui media, film, musik dan produk-produk konsumen. Contohnya, makanan cepat saji dari Amerika, seperti burger dan soda. Kini ada di hampir setiap sudut dunia, bahkan di negara-negara yang memiliki budaya kuliner tradisional yang kaya. Film-film Holywood mendominasi bioskop-bioskop di seluruh dunia, dan gaya hidup serta nilai-nilai Barat menjadi sesuatu yang dianggap keren dan modern, meskipun seringkali tidak sesuai dengan budaya lokal.

Baca juga:   Ucapan Milangkala 106 Paguyuban Pasundan dari Fak Hukum Unpas

Dalam banyak kasus, masyarakat di negara-negara berkembang mulai meninggalkan tradisi dan nilai-nilai lokal mereka demi mengikuti budaya asing yang dianggap lebih maju. Ini adalah bentuk lain dari kontrol yang tidak terlihat budaya lokal perlahan-lahan digantikan oleh budaya asing, menciptakan ketergantungan yang mendalam pada produk dan nilai-nilai negara lain.

Jadi, imperialisme baru bukan tentang penguasaan tanah dan wilayah, tetapi tentang bagaimana negara-negara kuat menggunakan pengaruh ekonomi dan budaya untuk mengendalikan negara-negara lain. Ini adalah bentuk kekuasaan yang lebih halus, tetapi tetap sangat efektif dalam menjaga dominasi global. Di bawah permukaan kata-kata manis tentang kerja sama internasional dan globalisasi, imperialisme baru terus bekerja, menciptakan dunia yang semakin tidak adil dan penuh dengan ketidaksetaraan. (han)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Hanna Hanifah
Tags: imperialisme barupaguyuban pasundanunpas


Related Posts

baznas jawa barat
HEADLINE

Resmi Dibubarkan di Paguyuban Pasundan, Pansel Tuntaskan Pemilihan Pimpinan Baznas Jabar

8 Januari 2026
Pelantikan YPT dan YPDM Pasundan
HEADLINE

Ketua Umum PB Paguyuban Pasundan Lantik Pengurus YPDM dan YPT Pasundan Periode 2025–2030

6 Januari 2026
unpas
PASPENDIDIKAN

Unpas Berikan Penghargaan Masa Bakti dan Prestasi Sivitas Akademika

1 Januari 2026

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Noel Gallagher bersama manajer Manchester City Pep Guardiola. (Foto: Getty Images/Michael Regan)
HEADLINE

Noel Gallagher Semprot Krisis Manchester United: “Klub Hancur yang Hanya Menjual Masa Lalu”

9 Januari 2026

MANCHESTER, WWW.PASJABAR.COM – Gelombang kritik terus menghantam Old Trafford pasca-keputusan manajemen Manchester United memecat Ruben Amorim dari...

Pelatih kepala Timnas Indonesia U-20 Nova Arianto. (instagram/@novarianto30)

Mengejutkan! Nama Nova Arianto Resmi Dicoret dari Daftar Asisten John Herdman di Timnas Senior, Ada Apa?

8 Januari 2026
Getty/GOAL

Man City Ditahan Imbang Brighton 1-1: Haaland Ukir Rekor Fantastis, Etihad Kembali Gigit Jari

8 Januari 2026
Viktor Gyokeres (kiri) berduel dengan gelandang Spanyol, Alberto Moleiro (kanan), dalam pertandingan persahabatan pramusim antara Arsenal vs Villarreal di Stadion Emirates di London pada 6 Agustus 2025. (Foto oleh Glyn KIRK / AFP)(AFP/GLYN KIRK)

Adu Tajam Viktor Gyökeres dan Cody Gakpo di Emirates

8 Januari 2026
Ilustrasi Arsenal vs Liverpool. Foto: AFP/Darren Staples.

Prediksi Arsenal vs Liverpool: Misi Balas Dendam Meriam London di Benteng Emirates

8 Januari 2026

Highlights

Adu Tajam Viktor Gyökeres dan Cody Gakpo di Emirates

Prediksi Arsenal vs Liverpool: Misi Balas Dendam Meriam London di Benteng Emirates

Debut Darren Fletcher Diwarnai Drama 4 Gol: Benjamin Sesko Gemilang, Tiang Gawang Gagalkan Kemenangan MU atas Burnley

Mengamuk di Jeddah: Barcelona Bantai Athletic Club 5-0, Amankan Tiket Final Piala Super Spanyol

Hattrick Kemenangan di Serie A: Fabregas Ingatkan Como 1907 Jangan Lengah Meski Tembus Papan Atas

Resmi Dibubarkan di Paguyuban Pasundan, Pansel Tuntaskan Pemilihan Pimpinan Baznas Jabar

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.