
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan (Hubungan Kemanusiaan dalam buku Wawasan Islam)
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Islam memandang manusia dengan pandangan positif untuk saling mengenal dan memahami serta bekerja sama dalam memajukan kesejahteraan manusia secara keseluruhan. Sehingga tercipta perdamaian yang abadi dan universal. Untuk mencapai tujuan tersebut, Islam menggariskan sepuluh dasar kemanusiaan untuk dijadikan pedoman dan pijakan.
-
Kehormatan Manusia (Karamah Insaniyah)
Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang menganggap manusia bagai khalifah di muka bumi. Allah memberikan seluruh yang ada di alam ini kepada manusia dan meletakkannya di bawah kekuasaannya dan dalam jangkauan kesanggupannya. Ole h sebab itu, manusia diberi akal yang memungkinkannya untuk berdiri sendiri dalam mengetahui hakikat rahasia alam dan semua yang ada di dalamnya. Demikian pula diberi kesediaan untuk mengetahui apa-apa yang berada di langit dan di bumi. Hal ini membuktikan kehormatan dan kemuliaan manusia semenjak alam ini dijadikan, sebagaimana banyak dinyatakan dalam Al-Quran, di antaranya dengan tegas disebut dalam surat Al-Isra ([17] : 70):
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, dan Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra [17] : 70)
Kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia tidak terbatas kepada satu ras saja dan tidak pula bagi satu bangsa tertentu. Tetapi ketika semua manusia yang mempunyai hak dan kedudukan yang sama untuk memperolehnya. Sabda Naba Muhammad SAW., “Semua kami berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Tidak ada kelebihan antara orang Arab dengan yang bukan Arab, kecuali ketakwaan.” (H R. Muslim).
-
Manusia adalah Umat yang Satu (Ummah Wahidah)
Al-Quran menyatakan bahwa semua manusia merupakan satu umat. Perbedaan yang ada hanya disebabkan hawa nafsu. Kemudian Allah mengutus para rasul-Nva untuk membawa petunjuk supaya umat manusia menyelesaikan semua bentuk pertikaian dengan ketentuan yang digariskan-Nya. Perbedaan bahasa dan warna kulit tidaklah menjadi penghalang bagi kesatuan manusia yang menyeluruh dan ini sudah merupakan Sunnatullah (hukum alam) dalam proses kejadian manusia. Demikian pula dengan menjadikan kekuatan dalam diri manusia yang memungkinkannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pembagian manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bukan untuk berpecah belah, tetapi supaya mereka saling mengenal dan saling membantu.
Firman Allah SWT.:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat [49 : 13)
Melalui perkenalan inilah, manusia dapat saling memanfaatkan atau saling memberi dan mengambil nilai-nilai kebaikan antara satu pihak dengan yang lainnya.
-
Kerja Sama Kemanusiaan (Ta’awwun Insani)
Kerja sama dan tolong-menolong (ta’awwun), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, merupakan prinsip umum dan dasar kehidupan bagi semua masyarakat, baik dalam berkeluarga, bertetangga. Bahkan, kerja sama merupakan tiang tegaknya suatu bangsa. Al-Quran menyeru umat manusia untuk mengembangkan kerja sama dan bantu-membantu dalam setiap wilayah dan dalam lingkungan kemanusiaan.
Firman Allah SWT.:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 2)
Nabi Muhammad SAW. menyatakan bahwa Allah akan memberikan kekuatan kepada semua orang yang menolong saudaranya sesama manusia di mana saja, sebagaimana disebutkan dalam hadis “Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” Dalam hadis ini, Nabi tidak menentukan bentuk saudara yang ditolongnya dan tidak membatasi dalam lingkungan persaudaraan agama atau bangsa. Hal ini mencakup seluruh persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah).
-
Toleransi (Tasamuh)
Islam membina hubungan kemanusiaan, baik antarindividu atau antargolongan atas dasar toleransi yang tidak berorientasi pada kejahatan. Al-Quran mengharuskan umat muslim untuk menolak kejahatan dan permusuhan dengan tindakan yang lebih baik. Sebab, penolakan yang baik ini akan menimbulkan persahabatan. Nabi memerintahkan umatnya untuk memaafkan dengan cara yang lebih baik, artinya bukan pemberian maaf yang disertai dengan harga diri dan bukan pemaafan yang menverah pada kejahatan atau menyerahkan diri kepada para penjahat. Firman Allah SWT.:
“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang antaramu dan antara dia yang sedang bermusuhan, menjadi seolah-olah teman yang sangat setia.” (Q.S. Fushshilat [41] : 34)
-
Kemerdekaan (Hurriyah)
Kepribadian manusia, baik individu, kelompok maupun bangsa suatu negara, tidak akan tumbuh dengan sempurna, melainkan di bawah naungan kemerdekaan dan kebebasan. Suatu kekuatan tidak akan tumbuh jika ia tidak dapat bergerak terus-menerus, apakah gerak anggota lahir atau gerak kepandaian (mauhibah atau genious) yang terpendam.
Kebebasan yang sesungguhnya dimulai dari pembebasan diri dan pengaruh hawa nafsu dan syahwat, dan menaklukkan diri pada kekuatan akal dan iman. Oleh sebab itu, Islam mencela orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa pengendalian dan tuntunan akal dan iman. Nabi SAW. menganggap seseorang itu kuat bila ia menguasasi hawa nafsunva, baik di waktu marah maupun di waktu senang. Beliau bersabda:
“Bukanlah orang-orang yang kuat itu adalah orang yang dapat menaklukkan semua lawan, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (H R. Bukhari – Muslim)
Dengan demikian, Islam tidak mengenal kebebasan mutlak yang dikendalikan hawa nafsunya tanpa ikatan hukum akal dan iman yang benar. Kebebasan dalam Islam harus dimulai dengan memerdekakan keinginan dan akal dari belenggu hawa nafsu.
-
Budi Baik (Al-Fadhilah)
Budi baik (al-fadhilah) merupakan salah satu dasar hubungan kemanusiaan dalam Islam baik antarperseorangan maupun antargolongan, di waktu perang atau masa damai. Budi baik tersebut lebih diperhatikan lagi dalam hal-hal yang bertalian dengan jihad karena di tengah-tengah kobaran perang, orang akan mudah terdorong untuk melanggar dasar budi baik itu. Itulah sebabnya, Nabi berpesan kepada para sahabatnya yang akan berangkat perang, “Berangkatlah dengan nama Allah untuk berjihad. Perangilah musuh-musuh Allah, tetapi janganlah berlebihan, jangan berkhianat, jangan berbuat hal yang keji, jangan menyayat-nyayat mayat, dan jangan membunuh anak-anak.” Dalam pesan lain diungkapkan, “Jangan membunuh atau menganiaya kaum lemah (orang tua renta dan wanita yang sedang hamil).”
Demikianlah perlakuan kaum muslimin terhadap kaum nonmuslim karena Islam hadir untuk melindungi budi-baik itu dan membina masyarakat teladan, yaitu budi baik berkembang dan budi buruk menghilang.
-
Keadilan (Al-‘Adalah)
Dalam agama Islam, semua hubungan kemanusiaan dibina atas dasar keadilan dan persamaan antara seluruh manusia. Keadilan adalah hak semua manusia, baik musuh maupun lawan. Al-Quran tidak membenarkan permusuhan mengalahkan keadilan atau membolehkan kezaliman. Bahkan, Islam menganggap keadilan terhadap musuh itu lebih dekat pada takwa. Firman Allah SWT.:
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Q.S. Al-Maidah [5] : 8)
Allah menyatakan bahwa keadilan merupakan syariat yang mendasari risalah Nabi Muhammad SAW. dan risalah para nabi sebelumnya. Jika api peperangan berkobar, keadilan harus tetap dipertahankan terhadap musuh atau kaum yang kalah.
-
Perlakuan yang Sama (Al-mua’amalah bil Mitsli)
Dasar perlakuan yang sama merupakan cabang dari dasar keadilan dan tidak dapat dipisahkan darinya. Perlakuan yang sama adalah bagian dari undang-undang keadilan yang berlaku dalam pergaulan manusia, baik antara sesama muslim maupun antara muslim dan nonmuslim. Dalam meletakkan dasar ini, Nabi bersabda, “Bergaullah dengan manusia dengan cara kamu ingin menggaulinya.” Menurut dasar keadilan ini, seorang muslim hanya boleh membalas orang yang menyerangnya dengan serangan yang setimpal, tidak boleh melebihinya. Perlakuan seperti ini tidak bertentangan dengan prinsip keadilan, budi-baik, dan toleransi. Toleransi juga tidak dibenarkan jika akan menumbuhsuburkan kezaliman karena perkembangan kezaliman akan membawa perkembangan kejahatan.
-
Memenuhi janji (Al-Wafa’ bil’ahdi)
Islam menyeru perdamaian. Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa kaum muslim harus memilih perdamaian jika musuh cenderung pada perdamaian itu.
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, hendaklah kamu juga condong kepadanya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Anfal [8] : 61)
Jalan menuju perdamaian adalah mengadakan perjanjian perdamaian dan setiap pihak tidak saling menyerang. Kekuatan perjanjian tidak terletak pada kata-kata yang tersurat, tetapi pada tekad baik orang-orang yang mengadakan perjanjian untuk memenuhi janji dan menganggap bahwa menepati janji merupakan suatu kekuatan dan memungkirinya sebagai sumber kelemahan. Para ahli hukum internasional mengatakan bahwa undang-undang internasional merupakan kumpulan dari perjanjian-perjanjian. Jika demikian, agama Islam telah memperkuat undang-undang tersebut dan membinanya dengan sebaik-baiknya. Pemenuhan janji tidak hanya dilakukan terhadap negara-negara yang kuat, melainkan terhadap negara-negara yang lemah.
Firman Allah SWT.:
“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu sesudah meneguhkannya sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S. An-Nahl [16] : 91)
-
Kasih Sayang (Mawaddah) dan Pencegahan Kerusakan
Manusia merupakan umat yang satu sehingga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insanyah) harus tetap terjalin dan terpelihara dengan penuh persahabatan dan kasih sayang. Dalam Islam, rasa kasih sayang (mawadda) tidak boleh diputuskan oleh perang dan tidak pula o leh pertikaian. Apabila rasa kasih sayang itu hidup terus dan tidak terputus, pintu gerbang perdamaian akan terbuka Islam hanya membolehkan menyerang musuh yang ada di medan pertempuran, tetapi rasa kasih sayang harus tetap terpelihara dan tidak boleh terpengaruh oleh permusuhan. Dengan demikian, Islam mengharuskan iba dan kasih sayang sekalipun di tengah-tengah medan peperangan.
Berdasarkan kasih sayang yang merata terhadap sesama manusia dan menciptakan kekhalifahan (kepemimpinan) manusia di atas bumi ini, Islam melarang semua perbuatan yang merusak dan menyeru kerja sama sesama manusia dalam mengerjakan kebaikan dan melindungi semua kepentingan umum. Para ahli hukum Islam menyimpulkan bahwa kepentingan umum jitu terletak pada lima hal: (1) melindungi nyawa manusia dan mempertahankannya (hifzun nafsi), (2) melindungi agama (hifzhud diin), (3) melindungi keturunan (hifzhud nasli), (4) melindungi akal (hifzul ‘aqli), dan (5) melindungi harta kekayaan (hifzhul maali). (han)