WWW.PASJABAR.COM – Gerhana Matahari total kini tak lagi menjadi fenomena langka yang harus dinanti puluhan tahun.
Badan Antariksa Eropa (ESA) berhasil menciptakan teknologi. Yang memungkinkan manusia menyaksikan “gerhana buatan” secara berkala melalui misi luar angkasa Proba-3.
Lewat inovasi ini, ESA menciptakan kondisi seperti gerhana total untuk mempelajari korona Matahari—bagian luar atmosfer Matahari yang sangat panas dan penting. Namun sulit diamati karena tertutup cahaya silau Matahari.
Korona merupakan sumber angin Matahari dan lontaran massa korona (CME) yang bisa mengganggu satelit, komunikasi, hingga sistem kelistrikan di Bumi.
Cara Kerja Gerhana Buatan
Misi Proba-3 terdiri dari dua satelit: Occulter yang berfungsi sebagai perisai untuk menutupi cahaya Matahari, dan Coronagraph yang menangkap citra korona.
Keduanya akan mengorbit Bumi dalam formasi sejauh 150 meter dengan presisi tingkat milimeter.
Setiap 19 jam 36 menit, saat mencapai puncak orbit elips sejauh 60.527 km dari Bumi, keduanya menciptakan gerhana buatan yang bisa berlangsung hingga enam jam—jauh lebih lama dari gerhana alami.
“Gerhana buatan ini memungkinkan kita mengamati korona secara presisi dan berkala. Kedua satelit akan bertindak seolah-olah mereka adalah satu instrumen optik raksasa sepanjang 150 meter,” kata Dietmar Pilz, Direktur Teknologi, Teknik, dan Kualitas ESA, dikutip dari Newsweek, Rabu (11/6/2025).
Teknologi Tingkat Tinggi di Orbit
Untuk mencapai presisi tersebut, ESA menggabungkan teknologi mutakhir. Seperti navigasi GPS antariksa, kamera optik dengan LED penanda, tautan radio presisi, dan pemantulan laser antar-satelit.
Ini menjadikan Proba-3 sebagai bukti konsep penerbangan formasi yang presisi dan awal dari era baru observatorium ruang angkasa.
Dengan minimnya gangguan atmosfer dan medan magnet Bumi di titik orbit tersebut, pengamatan korona bisa dilakukan lebih jernih dan lama. Dibandingkan pengamatan gerhana dari Bumi yang dibatasi difraksi cahaya pada teleskop biasa.
Langkah Revolusioner bagi Sains dan Teknologi
Proba-3 diluncurkan dari India pada September 2023, dan kini sedang menjalani pengujian pra-penerbangan di Belgia. Misi ini dirancang untuk beroperasi selama dua tahun atau lebih, tergantung cadangan bahan bakar untuk manuver formasi.
Jika berhasil, teknologi Proba-3 tak hanya membantu memahami iklim antariksa dan mitigasi risiko badai Matahari. Tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan teleskop luar angkasa raksasa dan perbaikan satelit secara real-time di orbit.
Belajar dari Sejarah Gerhana di Indonesia
Gerhana Matahari total terakhir yang sempat menarik perhatian dunia terjadi pada 8 April 2024 di Amerika Utara.
Peristiwa serupa baru akan terjadi lagi di akhir 2026 dan 2044. Di Indonesia, gerhana total pada 11 Juni 1983 masih lekat dalam ingatan sebagai peristiwa bersejarah.
Saat itu, pemerintah meminta warga tetap di rumah karena khawatir dampak kesehatan dari menatap gerhana langsung. Jalanan sepi, aktivitas nyaris terhenti.
Kini, dengan teknologi seperti Proba-3, manusia tak lagi sekadar menanti alam, melainkan menciptakan kondisi langit sesuai kebutuhan riset. Sebuah tonggak baru dalam eksplorasi antariksa. (han)
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .

h














