WWW.PASJABAR.COM – Ponsel legendaris Blackberry yang sempat merajai pasar pada awal 2000-an kini kembali populer, terutama di kalangan Generasi Z atau Gen Z.
Fenomena ini marak terlihat di media sosial, khususnya TikTok. Tagar #blackberry telah digunakan lebih dari 250 ribu kali oleh warganet yang menampilkan ponsel lawas tersebut dalam berbagai konten.
Sebagian besar Gen Z memilih Blackberry sebagai bentuk kejenuhan terhadap dominasi smartphone modern seperti iPhone dan Android. Selain karena harganya yang jauh lebih murah, ponsel ini dianggap sebagai simbol gaya hidup sederhana dan upaya detoks digital.
“Saya sudah muak dengan Apple, saya rela menyerahkan hampir semuanya demi sebuah Blackberry!” tulis seorang pengguna dalam video yang diunggah di TikTok, mengutip The New York Post.
Gerakan ini bukan sekadar nostalgia. Banyak anak muda mulai sadar akan dampak kecanduan digital. Mereka mencari cara untuk mengurangi konsumsi konten berlebihan dan membangun koneksi sosial yang lebih nyata.
Kolumnis teknologi asal Montreal, Pascal Forget, menyebut bahwa smartphone tidak lagi menjadi sumber kesenangan.
“Orang mulai kembali ke masa yang lebih sederhana dengan perangkat yang lebih terbatas,” ujarnya kepada CBC News.
Namun, penggunaan Blackberry tidak tanpa tantangan. Sejak menghentikan produksi pada 2016 dan menutup layanan pada Januari 2022, ponsel ini tak lagi mendapatkan pembaruan sistem operasi.
Beberapa aplikasi seperti WhatsApp dan Spotify pun tidak lagi berjalan optimal.
Selain itu, dukungan jaringan seluler untuk perangkat lawas ini juga makin terbatas. Sejumlah pengguna di forum komunitas Blackberry mengaku kesulitan mencari operator yang kompatibel.
Meski demikian, daya tarik Blackberry tetap kuat di mata sebagian Gen Z.
Bagi mereka, keyboard fisik, suara klik saat mengetik, hingga bentuk ponsel yang ikonik justru memberikan pengalaman yang lebih nyata dan personal—jauh dari layar sentuh dan notifikasi tanpa henti.
Tren ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, sebagian masyarakat justru memilih untuk mundur selangkah. Bukan karena ketertinggalan, tetapi demi kualitas hidup yang lebih seimbang. (han)












