
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan (Kajian Akidah Islam, dalam buku Mengenal Kesempurnaan Manusia)
WWW.PASJABAR.COM — Akidah Islam dengan misi risalahnya telah menjadikannya sebagai penutup risalah ilahiyyah dan tujuan semua umat manusia sampai akhir hidupnya. Segala hal yang terdapat dalam akidah Islam tersebut bertujuan untuk menjernihkan akidah sebelumnya dari berbagai noda dan penyelewengan, serta memurnikannya dari unsur-unsur asing yang masuk ke dalamnya dalam rentang waktu yang panjang. Secara garis besar, para ulama telah menghimpun seluruh sistem keyakinan dalam akidah Islam, yang dapat diidentifikasikan ke dalam hal-hal berikut:
- Uluhiyyah, yaitu membahas masalah-masalah ketuhanan yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, nama-nama-Nya, dan perbuatan atau ciptaan-Nya.
- Nubuwwah, yaitu membahas masalah-masalah kenabian dan kerasulan, termasuk sifat-sifat para nabi dan rasul, mukjizat dan kitab-kitab suci.
- Ruhiyyah, yaitu membahas masalah-masalah keruhanian, Seperti malaikat, jin, dan hal-hal gaib.
- Samiyyah, yaitu membahas masalah-masalah yang diketahui dari informasi atau keterangan dari Al-Quran dan hadis, seperti siksa kubur, neraka, surga, dan akhirat.
Dari keempat sistem keyakinan atau akidah Islam tersebut, kemudian lahirlah keimanan yang pada intinya dibangun di atas enam pilar yang lazim disebut rukun iman. Rukun iman ini sekaligus menjadi pokok bahasan dalam akidah Islam, yang meliputi: iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir dan ketetapan-Nya (qadha dan qadr). Hal ini terungkap dalam Al-Quran:
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Qs an-Nisa [4]: 136)
Rukun Iman Pertama
Rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah. Dalam ajaran Islam, beriman kepada Allah merupakan pokok dan dasar seluruh ajaran. Oleh karena itu, iman kepada Allah harus ditanamkan pada setiap jiwa seorang Muslim secara pasti dan tidak ragu-ragu.
Iman kepada Allah secara garis besarnya mencakup keimanan kepada eksistensi-Nya, keesaan-Nya, dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Rukun Iman Kedua
Rukun iman kedua adalah iman kepada para malaikat. Malaikat merupakan salah satu makhluk Allah yang gaib. Seorang Muslim wajib mengimaninya setelah keimanan kepada Allah Swt. Malaikat diciptakan oleh Allah dari cahaya, dan diberi tugas-tugas khusus yang dihubungkan dengan Allah, manusia dan alam semesta, Hakikat malaikat bukan merupakan makhluk materi, melainkan makhluk yang immateri. Akan tetapi, dengan izin Allah, sewaktu-waktu malaikat dapat menjelma ke alam materi seperti yang sering terjadi pada masa Rasulullah atau para rasul terdahulu. Hal tersebut dijelaskan dalam Al-Quran surah Hud [11]: 69-70, al-Hijr [15]: 5255, dan adz-Dzariyat [51]: 24-25.
Keyakinan terhadap malaikat tersebut bukan hanya sebatas mengetahui sifat-sifat dan tugas-tugasnya, melainkan harus melahirkan dampak dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Jika seseorang meyakini bahwa ada malaikat yang senantiasa mencatat kebaikan dan keburukan di setiap saatnya, maka ia harus selalu berhati-hati, sebab apa pun perbuatannya akan dicatat dan diminta pertanggungjawabannya pada suatu saat nanti. Oleh karena itu, iman kepada malaikat akan memberikan pengaruh kejiwaan atau sikap yang cukup besar pada diri seseorang, seperti sikap jujur, tabah, ikhlas, dan berani.
Rukun Iman Ketiga
Rukun iman yang ketiga adalah iman kepada kitab-kitab Allah Swt. Allah menurunkan wahyu kepada para nabi dan rasul, sebagiannya terkumpul dalam sebuah kitab, seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi ‘Isa, Zabur kepada Nabi Dawud, dan Al-Quran kepada Nabi Muhammad Saw. Kitab-kitab tersebut berisi informasi-informasi, aturan-aturan, dan hukum-hukum dari Allah untuk dijadikan pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Semua kitab Allah tersebut diturunkan untuk kelompok masyarakat dan bangsanya sesuai dengan tingkat kecerdasan dan perkembangan budayanya. Oleh karena itu, aturan-aturan dan hukum-hukum dalam kitab-kitab Allah dikemukakan dalam ungkapan yang berbeda-beda, baik dialek bahasanya maupur kandungan maknanya.
Rukun Iman Keempat
Rukun iman yang keempat adalah iman kepada para rasul. Ada dua golongan manusia yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan kebenaran-Nya kepada manusia lainnya di muka bumi. Pertama, para nabi, yaitu orang-orang yang diutus oleh Allah kepada kaum mereka masing-masing untuk memberikan petunjuk menuju kebenaran. Kedua, para rasul, yaitu orang-orang yang diutus Allah dengan membawa kitab kepada kaum mereka masing-masing untuk menunjukkan jalan kebenaran. Tidak ada perbedaan yang esensial antara para nabi dan para rasul selain dalam hal kitab yang dibawa kepada kaum mereka masing-masing.
Baik rasul maupun nabi adalah manusia pilihan Allah yang dipercaya untuk menerima wahyu Nya. Kemudian mereka diperintahkan untuk menyampaikan dan menjelaskan wahyu itu kepada umat manusia, sekahgus sebagai contoh konkret pribadi yang baik. Melalui rasul inilah manusia dapat melihat contoh penlaku yang baik dan sesuai dengan kehendak Allah dan juga dapat mengetahui segala sesuatu tentang Allah: mulai dari rencana, kehendak, keagungan dan kekuasaan-Nya sampai kepada manusia itu sendiri yang hakikatnya adalah dari Allah dan akan kembali kepada-Nya Oleh karena itu, iman kepada nabi dan rasul merupakan salah satu kebutuhan fitrah manusia.
Rukun Iman Kelima
Rukun iman yang kelima adalah iman kepada Hari Kiamat (Hari Akhir). Hari Kiamat adalah sesuatu yang pasti, sehingga semua hal yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran, dan itu adalah hari yang benar-benar akan terjadi, namun waktu kejadiannya dirahasiakan Allah dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Hari Kiamat berarti hari ketika semua kehidupan di dunia ini berakhir. Pada hari itu, alam semesta akan mengalami kehancuran total dan semua makhluk hidup akan musnah. Meskipun Allah merahasiakan waktu kejadiannya, namun gambaran tentang kondisi pada saat hari itu datang, baik kondisi alam maupun kondisi sosial kemasyarakatan, dijelaskan dalam Al-Quran, seperti dalam firman-Nya:
Hari Kiamat, apakah Hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah Hari Kiamat iu? Pada saat itu, manusia seperti anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung hancur seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Orang yang berat timbangan kebaikannya, dia berada dalam kehidupan yang memuaskan, sedangkan orang yang ringan timbangan kebaikannya, tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. (Qs al-Qari’ah [101]: 1-9)
Rukun Iman Keenam
Rukun iman yang keenam adalah iman kepada qadha dan qadr. Qadha dan qadar dalam pembicaraan sehari-hari disebut dengan takdir. Term qadha dalam Al-Quran diungkapkan di banyak tempat dan memiliki banyak arti yang meliputi: Hukum, Perintah, Memberitahukan, Menghendaki, Menjadikan.
Kemudian term qadr dalam Al-Quran dapat dipahami sebagai suatu aturan atau ketentuan umum yang telah diciptakan Allah untuk menjadi landasan bagi seluruh kejadian di alam semesta, yang mencakup hubungan sebab-akibat (kausalitas) dan biasa disebut hukum alam atau sunnatullah. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini terikat oleh hukum tersebut.
Iman kepada qadhi dan qadr ini dalam implementasinya harus didasari dengan pemahaman yang integral antara iman dan ilmu, sebab kalau tidak, akan mengakibatkan seseorang tergelincir kepada akidah dan cara hidup yang buruk dan fatal. Kekeliruan umum terhadap iman kepada gadha dan gadr ini adalah keyakinan bahwa “segala nasib baik dan buruk, muslim dan kafir, jahat dan saleh telah ditetapkan secara pasti oleh Allah, dan manusia hanyalah ibarat robot, segala kenyataan dalam hidupnya haruslah diterima apa adanya”. (han)










