Bandung, www.pasjabar.com — Hampir sepekan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) terpaksa menutup pintunya bagi pengunjung, sebuah keputusan yang berakar dari sengketa internal yang tak berkesudahan. Penutupan ini bukan hanya menghentikan aliran pendapatan utama, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keberlangsungan operasional, terutama terkait nasib 700 ekor satwa dan puluhan karyawan yang bergantung pada tempat ini.
Di tengah ketidakpastian yang membayangi, pihak pengelola berjuang keras untuk memastikan satwa tetap terurus, meski dihadapkan pada krisis finansial yang semakin menekan.
Perjuangan Tanpa Pemasukan: Jaminan Pakan Satwa dan Gaji Karyawan
Penutupan operasional secara total ini berarti terputusnya sumber pendapatan utama Kebun Binatang Bandung. Pemasukan yang biasanya didapat dari penjualan tiket pengunjung, sewa tenant, dan acara khusus kini nol.
Humas Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT), Sulhan Safi’i, menjelaskan bahwa meskipun situasi ini sulit, sekitar 50 keeper (perawat satwa) tetap bekerja setiap hari.
Mereka bertanggung jawab penuh untuk memberi makan, membersihkan kandang, dan menjaga fasilitas agar satwa-satwa tetap sehat.
Saat ini, biaya pakan masih ditanggung oleh Yayasan Bisma Bratakusuma, namun Sulhan mengakui bahwa situasi ini tidak bisa bertahan lama.
“Kalau lama-lama (ditutup) juga repot… ngasih makan tanpa pemasukan,” ujarnya, menggambarkan betapa beratnya beban finansial yang kini dipikul yayasan.
Biaya Operasional Fantastis dan Dampak Penutupan Jangka Panjang

Masalah yang dihadapi Kebun Binatang Bandung jauh lebih besar dari sekadar kehilangan pendapatan harian. Kuasa hukum pengelola YMT, Jutek Bongso, mengungkapkan angka yang mencengangkan terkait biaya operasional.
Rata-rata biaya pakan satwa saja bisa mencapai Rp400 juta per bulan. Angka ini belum termasuk gaji puluhan karyawan, biaya listrik, air, dan pemeliharaan rutin.
Dengan penutupan yang terus berlanjut, cadangan keuangan yayasan perlahan terkuras habis. Kekhawatiran Jutek bukan tanpa alasan.
Jika krisis finansial ini tidak segera ditangani, bukan hanya satwa yang akan menderita, tetapi juga karyawan yang menggantungkan hidup pada pekerjaan mereka.
Penutupan ini juga memaksa YMT untuk mengembalikan uang tiket daring kepada ratusan calon pengunjung, menambah beban finansial yang ada.
Usulan Solusi: Kembali ke Akta Lama Sambil Menunggu Putusan
Di tengah kemelut ini, Jutek Bongso menawarkan solusi yang dinilai paling realistis untuk mengatasi krisis finansial.
Ia mengusulkan agar operasional kebun binatang dikembalikan sementara kepada yayasan berdasarkan akta tahun 2024.
Menurutnya, akta ini telah digunakan selama 29 tahun tanpa masalah, dan sengketa internal seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum tanpa campur tangan pihak luar.
“Tolong dipikirkan karena pakan satwa ini kan memerlukan biaya, memerlukan cost yang besar,” tegas Jutek.
Dengan mengusulkan solusi ini, pihak pengelola lama berharap ada titik terang agar kebun binatang dapat kembali beroperasi normal, menyelamatkan satwa dari ancaman kekurangan pakan dan memastikan para pekerja tetap mendapatkan hak mereka.
Nasib satwa dan karyawan di Kebun Binatang Bandung kini sepenuhnya bergantung pada penyelesaian sengketa internal yang mendesak ini.












