BANDUNG BARAT, WWW.PASJABAR.COM – Ratusan siswa di SDN Bunisari Ngamprah, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar dalam kondisi tidak normal setelah delapan ruang kelas di sekolah tersebut dipagari oleh pihak ahli waris pada Senin (13/4/2026) siang.
Akibatnya, para siswa harus berbagi ruang kelas dan sebagian kegiatan belajar dialihkan ke ruang kesenian.
Situasi ini terjadi karena masih adanya sengketa lahan antara pihak sekolah dengan ahli waris atas tanah yang digunakan untuk gedung SDN Bunisari.
Lahan tersebut sebelumnya merupakan bagian dari SDN Langensari yang telah dimerger. Namun hingga kini proses hukumnya masih berjalan dan belum menemukan titik akhir.
Kondisi tersebut membuat aktivitas pendidikan terganggu. Dari total sekitar 560 siswa, kegiatan belajar yang biasanya berlangsung satu shift di pagi hari kini harus dibagi menjadi dua shift, yakni pagi dan siang.
Dengan keterbatasan hanya tujuh ruang kelas yang dapat digunakan, ruang kesenian pun ikut dialihfungsikan sebagai ruang belajar sementara.
Pembelajaran Terbatas, Siswa Tetap Berusaha Belajar
Salah satu siswa, Kania, mengaku kegiatan belajar menjadi tidak senyaman biasanya. Namun ia tetap berusaha mengikuti pelajaran dengan baik meski harus berbagi ruang dan waktu belajar.
“Sekarang belajarnya bergantian, jadi kadang pagi, kadang siang. Agak tidak nyaman, tapi kami tetap belajar seperti biasa,” ujar Kania.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat, Asep Dendih, mengatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan psikologis siswa tetap dalam keadaan baik meski proses belajar terganggu.
“Secara psikologis anak-anak masih dalam kondisi baik. Namun kami akui kegiatan belajar mengajar terganggu karena harus dilakukan dengan sistem dua shift,” ujarnya.
Asep juga menegaskan bahwa pihak dinas belum dapat mengambil langkah lebih jauh karena masih menunggu proses hukum terkait sengketa lahan yang sedang berlangsung.
Pemerintah daerah, kata dia, memilih untuk menghormati proses hukum yang berjalan sambil mencari solusi terbaik agar pendidikan tetap berlangsung.
Di sisi lain, para siswa dan pihak sekolah berharap agar sengketa lahan ini segera menemukan penyelesaian. Mereka berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait. Agar proses belajar mengajar dapat kembali normal tanpa keterbatasan ruang.
Dengan kondisi yang masih belum pasti, SDN Bunisari Ngamprah kini berupaya menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah keterbatasan fasilitas, sembari menanti keputusan hukum yang diharapkan dapat menjadi jalan keluar bagi seluruh pihak. (uby)












