# Kalau Kau Jadi Pemimpin

Oleh: Firdaus Arifin, Dosen FH Unpas dan Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat (Hal Ihwal Surat Keputusan)
Ada yang lebih penting dari sekadar jadi pemimpin: menjadi manusia. Karena jabatan bisa direbut, kekuasaan bisa diwarisi, bahkan popularitas bisa dibeli. Tapi kemanusiaan—apalagi yang berakar dari jiwa yang bening—tak bisa dipalsukan.
Negeri ini sudah terlalu kenyang dengan pemimpin yang pandai bersilat lidah. Janji demi janji seperti hujan yang jatuh di atap seng: nyaring, tapi tak menyuburkan. Mereka datang dengan wibawa, pergi dengan cela. Mereka naik dengan slogan, turun dengan aib. Lalu rakyat ditinggalkan di tengah luka yang tak sempat mengering.
Seorang pemimpin, siapa pun dia—entah presiden, gubernur, menteri, camat, bahkan rektor—akan diuji bukan dengan seberapa banyak dia membangun gedung, tapi dengan seberapa jujur ia mengakui kesalahannya. Dan seberapa mampu ia menundukkan diri di hadapan penderitaan orang kecil.
Tak Semua yang Tinggi Itu Mulia
Orang sering menyangka, makin tinggi kursi yang diduduki, makin dekat dia pada kemuliaan. Padahal, sejarah mengajarkan kita: banyak orang mulia justru tak pernah memegang jabatan. Dan banyak pemegang jabatan justru kehilangan kemuliaan karena tamak, sombong, dan merasa paling benar.
Pemimpin itu seperti pohon besar. Ia harus kuat menahan badai, tapi juga teduh menaungi rumput di bawahnya. Jangan jadi seperti tiang bendera yang hanya tegak karena dipaku dan dijaga penjaga. Tanpa itu semua, ia roboh.
Kemuliaan bukan perkara protokoler. Bukan juga tentang dibukakan pintu atau diberi panggilan “Yang Terhormat”. Kemuliaan hadir ketika seseorang tetap rendah hati meski diberi kuasa. Tetap sederhana meski hidup dalam limpahan fasilitas. Tetap merasa cukup meski bisa mengambil lebih.
Kalau engkau jadi pemimpin, jangan mengira semua orang mencintaimu karena dirimu. Bisa jadi mereka hanya takut. Atau sekadar menghormat jabatannya, bukan pribadimu. Maka, sebelum kau percaya pujian dan sanjungan, tanyalah hatimu sendiri: apakah kau masih merasa gelisah jika melihat ketidakadilan?
Kekuasaan Itu Ujian, Bukan Anugerah
Sering kali orang menyangka bahwa kekuasaan adalah berkah. Mereka lupa, banyak pemimpin di dunia ini justru dikutuk karena kekuasaannya. Fir’aun punya kekuasaan luar biasa, tapi tak punya hati yang peka. Maka tenggelamlah ia dalam sejarah, bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai pelajaran.
Kekuasaan itu mirip pedang: tajam di dua sisi. Ia bisa digunakan untuk menegakkan keadilan, bisa pula untuk menusuk nurani. Maka yang terpenting bukan seberapa besar kuasa itu, tapi seberapa hati-hati tangan yang menggenggamnya.
Ada pemimpin yang begitu mudah menandatangani keputusan, tapi begitu sulit menatap mata rakyat yang terdampak. Ia membuat aturan tanpa rasa. Menyusun kebijakan tanpa tangis. Padahal, keputusan seorang pemimpin bisa menghidupkan atau mematikan banyak orang.
Kalau kau jadi pemimpin, berhentilah sejenak sebelum menandatangani sesuatu. Bayangkan ibu-ibu yang kehilangan warungnya karena kebijakanmu. Bayangkan anak-anak yang tak bisa sekolah karena kau pilih proyek, bukan anggaran pendidikan. Kalau kau masih bisa menangis membayangkan itu, berarti hatimu masih hidup.
Malu Itu Cermin Nurani
Dulu, kita punya pejabat yang menolak gaji karena merasa belum bekerja dengan layak. Kita punya pemimpin yang sepatu satu-satunya bolong, tapi harga dirinya utuh. Kita punya orang-orang besar yang tidur di rumah kecil, tapi bermimpi besar untuk rakyatnya.
Kini, banyak pemimpin yang malu kalau tak pakai jas mahal. Malu kalau naik mobil dinas yang bukan terbaru. Tapi tak malu ketika rakyat antre bantuan beras. Tak malu ketika para guru honorer bertahun-tahun tak diangkat. Tak malu ketika hukum dipermainkan.
Kalau kau ingin jadi pemimpin, latih dulu rasa malumu. Malu kalau mengeluh, padahal rakyatmu bersabar dalam kekurangan. Malu kalau marah dikritik, padahal kau digaji dari keringat mereka. Malu kalau menyalahkan bawahannya, padahal dirimu duduk paling atas.
Malu itu bukan lemah. Justru pemimpin yang tak punya malu, mudah merendahkan orang lain. Mudah mengambil yang bukan haknya. Mudah menyalahkan siapa pun kecuali dirinya.
Mendengar Lebih Sulit dari Berbicara
Banyak pemimpin suka bicara. Tapi tak banyak yang benar-benar mau mendengar. Mereka hadir dalam forum, pidato panjang, janji ditabur seperti benih. Tapi setelah itu, mereka pergi. Tak ada yang kembali melihat apakah benih itu tumbuh atau mati.
Mendengar itu pekerjaan sunyi. Tak bisa dipamerkan di media. Tak bisa dibanggakan dalam konferensi pers. Tapi justru dari sana, kepercayaan tumbuh. Rakyat tak menuntut pemimpin sempurna. Mereka hanya ingin didengarkan.
Kalau kau jadi pemimpin, lebih banyaklah diam. Dengarkan keluhan orang-orang kecil. Tanyakan langsung pada petani, bukan hanya pada data statistik. Datangi rumah sakit rakyat, bukan hanya peresmian rumah sakit elite. Lihat dengan mata, bukan lewat laporan staf.
Pemimpin yang mau mendengar adalah pemimpin yang tak mudah menyalahkan. Karena ia tahu: tidak semua masalah berasal dari bawah. Kadang, akar masalah justru tumbuh dari atas.
Kebaikan yang Tak Terekam Kamera
Di zaman ini, semua ingin terekam. Bagi-bagi bantuan harus direkam. Sujud syukur pun disyut. Sopan santun dibuat konten. Kebaikan harus punya angle.
Tapi kebaikan sejati, justru lahir dalam diam. Ia tak butuh disaksikan. Ia hanya butuh niat yang jernih. Pemimpin yang benar tak peduli apakah kebaikannya viral atau tidak. Ia hanya peduli apakah rakyatnya tenang.
Kalau kau jadi pemimpin, jangan sibuk dengan kamera. Sibuklah dengan nurani. Karena pujian bisa naikkan rating, tapi hanya keikhlasan yang meninggikan derajatmu di hadapan Tuhan.
Kita tak butuh pemimpin yang sempurna. Kita butuh pemimpin yang tulus. Yang tak mengharapkan balasan kecuali senyum rakyatnya.
Kepemimpinan adalah Pengabdian
Pemimpin bukan majikan. Ia pelayan. Kalau masih ingin dihormati karena jabatan, berarti belum siap jadi pemimpin. Kalau marah karena dikritik, berarti belum selesai dengan ego.
Kekuasaan adalah alat. Tujuannya satu: menyejahterakan yang lemah, melindungi yang tertindas, dan menegakkan keadilan. Kalau itu tak dilakukan, semua jabatan hanyalah formalitas.
Kalau kau jadi pemimpin, jadikan jabatanmu sarana, bukan tujuan. Jangan bangga karena kau disalami banyak orang. Banggalah kalau kau bisa menyalami rakyat kecil yang diam-diam mendoakanmu.
Jadi Pemimpin, Tetap Jadi Manusia
Dunia ini sering memaksa orang berubah ketika jadi pemimpin. Hati yang dulu lembut jadi keras. Kata-kata yang dulu santun jadi tajam. Dulu senyum, kini sinis. Dulu merakyat, kini elitis.
Tapi kau, tetaplah jadi manusia. Karena kalau manusia sudah tak merasa bersalah ketika menyakiti orang lain, jabatan apa pun tak bisa menyelamatkannya.
Kalau kau jadi pemimpin, jangan lupa jadi manusia. Karena ketika kekuasaanmu habis, yang tinggal bukan rumah dinas atau ajudan, tapi namamu di hati rakyat—dan catatanmu di hadapan Tuhan. (*)
# Kalau Kau Jadi Pemimpin












