
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan (Manusia dalam Pandangan Ilmu Pengetahuan, dalam buku Mengenal Kesempurnaan Manusia)
WWW.PASJABAR.COM – Teori ilmu pengetahuan memandang wujud manusia yang ada saat ini merupakan hasil dari perubahan bertahap dari makhluk lain yang lebih rendah, atau disebut teori evolusi. Para pengusung teori ini mengidentikkan manusia dengan binatang. Identifikasi ini tampak, pada sebutan yang mereka gunakan dalam mendefinisikan manusia, seperti bahwa manusia adalah animal educable atau animal educandus (binatang yang dapat dididik) dan animal educadum (binatang yang harus dididik).
Di satu sisi, memang manusia memiliki kesamaan dengan binatang, namun di sisi lain, terdapat perbedaan yang sangat fundamental. Persamaannya antara lain adalah: pertama, baik manusia maupun binatang memiliki naluri untuk memenuhi kebutuhan biologis, seperti makan dan minum. Kedua, sama-sama memiliki naluri untuk mempertahankan diri dari setiap ancaman bahaya. Ketiga, sama-sama memiliki naluri untuk mendapatkan keturunan untuk kelestarian spesiesnya.
Adapun perbedaannya adalah manusia mampu mengembangkan nalurinya sehingga bersifat dinamis, sedangkan naluri binatang bersifat statis karena tidak berkembang. Perbedaan lainnya yang fundamental adalah manusia mengenal adanya norma, etika, dan moral, yang tidak dimiliki oleh binatang. Perbedaan ini dikatakan fundamental karena unsur-unsur tersebut menentukan derajat dan martabat manusia, dan bahkan membedakannya dari seluruh makhluk hidup lainnya. Hal ini karena manusia memiliki akal yang tidak dikaruniakan kepada binatang. Dengan akal, manusia dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik dan menghindari perbuatan-perbuatan buruk.
Manusia juga disebut makhluk monodualis, yang memiliki beberapa pengertian, yaitu:
Pertama, manusia adalah kesatuan antara dua unsur, yakni jiwa dan raga yang tidak terpisah selama hidupnya. Keduanya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi, sehingga dikatakan bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Dan sebaliknya, kesehatan jiwa akan berpengaruh terhadap kesehatan raga.
Kedua, manusia adalah makhluk individual dan sekaligus makhluk sosial. Ini artinya setiap manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan individu yang lain. Karena itulah, manusia memiliki naluri untuk hidup berkelompok, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat.
Ketiga, manusia diciptakan Allah Swt untuk hidup di dua alam, yaitu alam dunia untuk kehidupan yang fana dan alam akhirat untuk kehidupan yang hakiki dan abadi. Oleh karena itu, selama hidup di dunia, manusia harus bekerja dan beramal saleh untuk bekal hidupnya di dunia ini dan juga untuk di akhirat nanti.
Ketiga bentuk kehidupan monodualis manusia tersebut sesuai dengan karakteristik ajaran Islam yang antara lain adalah sikap moderat, yakni bahwa umat Islam adalah umat yang pertengahan dan selalu menjaga keseimbangan, baik aspek jasmani dan ruhani, individu dan sosial, maupun dunia dan akhirat (lihat Qs al-Baqarah (2):143 dan 201). (han)











