
Oleh: Prof. Dr. H. Ali Anwar, M.Si., Ketua Bidang Agama Paguyuban Pasundan (Toleransi, dalam buku Mengenal Kesempurnaan Manusia)
WWW.PASJABAR.COM – Islam Pelangi, judul buku yang ditulis oleh Prof. Afif Muhammad, dosen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggambarkan ajaran Islam dalam tataran praktisnya yang sangat beraneka ragam dan warna-warni, baik ditinjau dari segi akidah maupun syariat.
Dari segi akidah, secara garis besar, ada umat Islam yang berpaham Jabariyah dan ada juga yang berpaham Qadariyah. Dari segi syariat, ada yang menganut fikih Hanafi, Syafi’i, Hanbali, dan Maliki, serta ada pula yang mengikuti mazhab-mazhab fikih lainnya.
Perbedaan paham tersebut direspons oleh masyarakat Muslim secara berbeda-beda pula. Ada yang meresponsnya secara ekstrem (radikal) dan ada juga yang meresponsnya secara moderat (lentur). Kondisi ini tidak sedikit mengakibatkan percekcokan, bahkan lebih memprihatinkan lagi, hingga menimbulkan permusuhan antarumat Islam sendiri. Disadari atau tidak, begitulah kenyataan umat Islam dari dahulu sampai sekarang, baik dalam skala regional, nasional, maupun internasional. Kenyataan tersebut terjadi secara mikro di internal umat Islam.
Kemudian secara makro, di dunia ini terdapat banyak agama. Beberapa agama besar di dunia antara lain Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Dalam hal ini, ada penganut suatu agama yang memandang agama lain dengan pandangan ekstrem sehingga mencaci maki agama lain yang tidak dianutnya. Namun banyak pula yang memandang agama lain secara moderat, sehingga terjalin hubungan baik atau kerukunan di antara umat beragama. Sikap yang kedua inilah yang dapat dikategorikan sebagai sikap toleran.
Pengertian dalam Buku Wawasan Islam
Dalam buku Wawasan Islam, toleransi diartikan sebagai memberi kebebasan atau membiarkan pendapat orang lain. Dalam istilah lain, toleransi berarti berlaku atau bersikap sabar dalam menghadapi orang lain (Jalaluddin Rakhmat, 2002:84).
Dalam bahasa Arab, toleransi disebut tasamuh yang berasal dari kata samhah, yang artinya mudah. Dengan demikian, toleransi berarti membiarkan atau membolehkan sesuatu, mengizinkan, dan saling memudahkan. Singkatnya, toleransi adalah sikap lapang dada terhadap prinsip yang dipegang atau dianut orang lain tanpa mengorbankan prinsip sendiri.
Masalah toleransi antaragama bukanlah hal baru. Ia telah menjadi persoalan sejak awal perkembangan suatu agama. Ketika nabi atau pencetus suatu agama masih hidup, umatnya dapat bersatu dan kompak. Namun setelah pembawa agama itu meninggal dunia dan pengikutnya semakin berkembang, mereka kemudian terpecah ke dalam beberapa kelompok yang berbeda-beda.
Masing-masing kelompok merasa paling sesuai dengan ajaran yang dibawa pencetusnya dan menilai kelompok lain telah menyimpang. Selanjutnya, timbullah sikap-sikap intoleransi yang terjadi bukan hanya antarkelompok agama, melainkan juga di dalam internal suatu agama. Sikap intoleransi dalam agama menjadi salah satu pemicu ketidakrukunan dan ketidakharmonisan di tengah masyarakat. (han)












