WWW.PASJABAR.COM – Para ilmuwan di Tiongkok menemukan bahwa diet dengan pembatasan kalori tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga memicu perubahan signifikan pada otak dan usus.
Kedua organ tersebut menunjukkan penyesuaian biologis yang berfungsi membatasi asupan makanan sekaligus menjaga berat badan tetap sehat.
Dilaporkan laman Science Alert, dilansir dari ANTARA, Senin (8/12/2025), penelitian ini melibatkan 25 relawan yang tergolong obesitas.
Para peserta mengikuti program pembatasan energi intermiten (intermittent energy restriction/IER) selama 62 hari, yaitu metode diet yang mengatur asupan kalori secara ketat dan mengharuskan puasa relatif pada hari-hari tertentu.
Hasilnya, para peserta tidak hanya kehilangan berat badan hingga 7,6 kilogram atau 7,8 persen dari berat badan awal, tetapi juga mengalami perubahan pada aktivitas sejumlah area otak yang berkaitan dengan obesitas.
Pergeseran komposisi bakteri usus juga turut terdeteksi, menunjukkan adanya hubungan erat antara pola makan, aktivitas otak, dan kondisi mikrobioma usus.
“Di sini kami menunjukkan bahwa diet IER mengubah sumbu otak–usus–mikrobioma manusia,” ujar peneliti kesehatan Qiang Zeng dari Second Medical Center dan National Clinical Research Center for Geriatric Diseases di Tiongkok.
Perubahan Saling Terhubung di Otak dan Usus
Dalam penelitian tersebut, perubahan pada mikrobioma usus dan aktivitas area otak yang berkaitan dengan kecanduan berlangsung dinamis selama periode penurunan berat badan.
Mikrobioma diketahui menghasilkan neurotransmiter dan neurotoksin yang dapat mengakses otak melalui saraf dan aliran darah. Sebaliknya, otak berperan mengendalikan perilaku makan, sementara nutrisi dari makanan turut menentukan susunan mikrobioma usus.
Pemindaian fMRI menunjukkan perubahan pada wilayah otak yang berperan mengatur nafsu makan dan kecanduan, termasuk girus orbital frontal inferior. Sementara itu, analisis sampel tinja dan darah menunjukkan perubahan mikrobioma yang berkaitan langsung dengan area otak tertentu.
“Mikrobioma usus diperkirakan berkomunikasi dengan otak dalam cara dua arah yang kompleks,” kata ilmuwan medis Xiaoning Wang.
Temuan ini diharapkan membuka jalan bagi strategi yang lebih efektif dalam pencegahan dan penanganan obesitas. (han)









