BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM— Tiga mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) berhasil menorehkan prestasi gemilang pada Grand Final Mojang Jajaka Kabupaten Bandung 2025 yang digelar di Gedung Budaya Soreang, Minggu (7/11/2025).
Mereka adalah Dindin Kodar, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang terpilih sebagai Jajaka Duta Ekraf Kabupaten Bandung 2025, Anggi Permana mahasiswa Studi Ekonomi Pembangunan, sebagai Jajaka Harapan 1, dan Junastio Andika, mahasiswa Studi Ekonomi Pembangunan sebagai Jajaka Harapan 3.
Dalam wawancara khusus kepada PASJABAR, Dindin Kodar membagikan momen paling menentukan yang membuatnya ikut ajang Mojang Jajaka Kabupaten Bandung 2025.
“Momen paling menentukan adalah saat kami menjalankan peran sebagai Duta Kampus. Di situ kami sadar bahwa tugas seorang duta bukan hanya sebatas lingkungan kampus, tapi juga membawa nama daerah, budaya, dan masyarakat lebih luas. Dari pengalaman itu, muncul dorongan untuk naik satu langkah lebih besar: menjadi wakil Kabupaten Bandung. Ajang Mojang Jajaka, kami lihat sebagai ruang lanjutan pengabdian, bukan sekadar kompetisi, tetapi sebagai perpanjangan peran saya dari duta kampus menjadi duta daerah,” ujar Dindin.
Sebagai mahasiswa Unpas sekaligus Duta Kampus, pengalaman ini membangun kapasitas diri Dindin hingga terpilih menjadi Jajaka Kabupaten Bandung.
“Kami sering terlibat dalam kegiatan promosi kampus, edukasi ke sekolah, public speaking, serta kegiatan sosial dan budaya. Dari sana kami terbiasa menjadi representasi institusi, menjaga sikap, cara bicara, hingga etika di depan publik. Pengalaman ini sangat relevan dengan peran Mojang Jajaka, karena pada dasarnya sama-sama membawa nama daerah dan institusi, hanya cakupannya yang lebih luas yaitu Kabupaten Bandung,” jelasnya.
Di balik prestasi ini, tantangan terbesar Dindin adalah membagi waktu antara tanggung jawab sebagai Duta Kampus, mahasiswa, dan Mojang Jajaka.
“Kami mengatasinya dengan disiplin, membuat skala prioritas, serta menjaga konsistensi belajar tentang kebudayaan dan potensi Kabupaten Bandung. Pengalaman sebagai duta kampus mengajarkan kami untuk tetap profesional meski berada di bawah tekanan,” tambah Dindin.
Untuk tetap produktif dan kreatif, Dindin memiliki strategi dan kebiasaan harian khusus.
“Kami membiasakan diri memulai hari dengan membaca dan mencatat ide-ide baru, lalu mempraktikkan public speaking secara mandiri. Kami juga aktif mencari informasi tentang isu daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif Kabupaten Bandung. Kebiasaan ini terbentuk sejak kami menjadi Duta Kampus, karena kami sadar seorang duta harus selalu siap membawa nilai,” ungkapnya.
Terlibat dalam Program Ekonomi Kreatif di Kabupaten Bandung
Setelah terpilih, Dindin berencana menjalankan program konkret untuk mendorong ekosistem ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung.
“Kami ingin memanfaatkan media sosial sebagai ruang utama promosi Kabupaten Bandung dengan membuat konten rutin yang menampilkan destinasi wisata, pelaku ekonomi kreatif, serta tradisi dan budaya lokal. Program ini akan berbentuk kampanye digital seperti ‘Explore Kabupaten Bandung’, yang melibatkan mahasiswa, komunitas kreatif, dan pelaku UMKM untuk bersama-sama menciptakan konten edukatif dan inspiratif. Pengalaman kami sebagai Duta Kampus dalam mengelola konten publik dan komunikasi digital menjadi modal utama untuk memperluas jangkauan promosi dan membangun citra positif Kabupaten Bandung di kalangan generasi muda dan masyarakat luas,” jelasnya.
Dindin juga menyoroti sosok yang paling berpengaruh dan nilai yang dipegangnya sebagai Jajaka Kabupaten Bandung.
“Sosok paling berpengaruh adalah orang tua, dosen, dan para senior saat kami menjadi Duta Kampus, yang mengajarkan pentingnya integritas, tanggung jawab, dan konsistensi. Nilai yang kami pegang sebagai Jajaka Kabupaten Bandung adalah: ‘representasi bukan soal penampilan, tapi tentang kebermanfaatan dan dampak nyata.’ Kami ingin kehadiran kami dapat membuka jalan dan menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk ikut bergerak membangun daerahnya,” tutup Dindin.
Keberhasilan tiga duta Unpas ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dan promosi budaya Kabupaten Bandung di tingkat yang lebih luas. (tiwi)












