Bandung, www.pasjabar.com — Pemerintah Kota Bandung, melalui Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskopukm Kota Bandung), sukses menggelar Festival Kampung Bersih Rentenir (KBR) 2025 di Nara Park, Ciumbuleuit, Kamis (11/12).
Kegiatan yang bertema “Mewujudkan Kemandirian, Merdeka dari Rentenir, Sejahtera Bersama Bandung Utama” ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan kunci, termasuk pimpinan DPRD Kota Bandung, OJK Jawa Barat, perbankan, PT PNM Madani, hingga BAZNAS.
Program KBR sendiri merupakan inisiatif unggulan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) sejak 2022, bertujuan menguatkan literasi keuangan, membuka akses ke lembaga keuangan resmi, dan meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat melalui kolaborasi hexa helix.
Sejak pembentukan Satgas Anti Rentenir pada 2017, Pemkot Bandung telah menangani total 1.590 pengaduan hingga November 2025.
KBR Berhasil Turunkan Ketergantungan Rentenir Hingga 6,48 Persen

Capaian program KBR terbukti luar biasa dan berdampak nyata pada ketahanan ekonomi warga.
Bahkan, keberhasilan implementasi program Satgas Anti Rentenir dan KBR ini mengantarkan Kota Bandung meraih penghargaan Financial Literacy Award kategori Pemerintah Daerah Terbaik Level Kota dari OJK Pusat.
Data Diskopukm Kota Bandung mencatat sejumlah hasil signifikan dari Festival Kampung Bersih Rentenir (KBR) 2025 Bandung:
-
Ketergantungan masyarakat pada rentenir turun drastis dari 51,54 persen menjadi 6,48 persen.
-
Pemahaman pengelolaan keuangan dan akses terhadap lembaga resmi naik dari 39,81 persen menjadi 94,75 persen.
-
Kesadaran kolektif anti-rentenir melonjak dari 41,05 persen menjadi 93,21 persen.
Selain itu, program ini telah membentuk 14 kelompok KBR dengan 477 anggota aktif, memfasilitasi 102 pembiayaan usaha dengan total mencapai Rp167.950.000, serta menghasilkan tabungan kelompok senilai Rp68.601.800.
Pesta Anggota KBR: Lahirnya Koperasi dan Legalitas Usaha
Kabid Pengawasan Koperasi Diskopukm Kota Bandung, Tris Avianti, menjelaskan bahwa Festival KBR 2025 adalah puncak perayaan dan laporan progres program.
“Hari ini festival ini adalah pestanya teman-teman anggota KBR dan pendamping. Kita melaporkan progres sejak awal,” ujarnya.
Program KBR memiliki tiga tahap: aktivasi, keberlanjutan, dan kemandirian. Tris Avianti menekankan peningkatan kualitas hidup anggota KBR.
“Yang tadinya belum punya usaha, alhamdulillah setelah ikut KBR mereka punya usaha. Yang sudah punya usaha tapi belum memiliki legalitas, sekarang punya legalitas.”
Berbagai capaian legalitas usaha yang difasilitasi meliputi penerbitan 281 Nomor Induk Berusaha (NIB), 70 sertifikat halal, dan 57 fasilitasi kemasan.
Secara kelembagaan, beberapa koperasi sukses lahir dari program ini, termasuk Koperasi Berkah Usaha Manunggal, yang anggotanya mencakup seluruh anggota KBR yang sudah teraktivasi di 14 kecamatan.
Proyeksi Perluasan Program KBR Hingga 2027
Melihat kesuksesan yang ada, Pemkot Bandung tidak akan berhenti. Pada tahun 2026, program KBR akan diperluas ke tujuh kecamatan baru, di antaranya Sukasari, Andir, dan Buah Batu. Saat ini, KBR sudah tersebar di 14 kecamatan.
Tris Avianti menargetkan bahwa pada tahun 2027, seluruh 30 kecamatan di Kota Bandung sudah memiliki KBR.
Melalui program yang terstruktur, pendampingan dari The Local Enabler (TLE) Comprov, dan edukasi literasi keuangan yang berkelanjutan, Pemkot Bandung optimis dapat terus memutus rantai ketergantungan masyarakat pada rentenir, pinjaman online ilegal, dan judi online, sambil terus mendorong para anggota KBR naik kelas menjadi pelaku UMKM yang berkembang. (Eci)









