JAKARTA, WWW.PASJABAR.COM – Sepak bola Indonesia kembali berduka atas runtuhnya nilai-nilai sportivitas di level pembinaan. Sosok Fadly Alberto Hengga, yang sebelumnya dipuja sebagai pahlawan di Piala Dunia U-17 2025, kini justru menjadi buah bibir karena tindakan brutalnya di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) Super League U-20 2025/26.
Kejadian yang berlangsung di Stadion Citarum, Semarang (20/4/2026) saat laga Bhayangkara FC U-20 melawan Dewa United U-20, memperlihatkan sisi gelap dari talenta muda Indonesia. Alberto terkonfirmasi melepaskan “tendangan kungfu” ke arah pemain lawan—sebuah tindakan yang tidak hanya mencederai fisik lawan, tetapi juga masa depannya sendiri.
Mengulang Jejak Kelam Hugo Samir
Insiden yang menimpa Fadly Alberto seolah menjadi dejavu atas apa yang pernah dialami oleh Hugo Samir. Putra dari pelatih legendaris Jacksen F. Tiago tersebut sempat menyandang label “pemain bengal” setelah berkali-kali terjerat kasus serupa di kompetisi EPA.
Pada 2021, Hugo dihukum satu tahun larangan bermain karena menendang wasit. Tak berhenti di situ, pada 2023, ia kembali memukul pemain lawan saat membela Borneo FC U-20. Dampaknya terasa nyata; meski sempat dipanggil Shin Tae-yong ke Timnas U-20, karier Hugo hingga kini belum benar-benar melesat di kasta tertinggi. Ia kini harus berjuang di kasta kedua bersama Persiku Kudus sebagai pemain pinjaman dari Persik Kediri.
Konsekuensi Instan: Pencoretan dari Timnas U-20
Berbeda dengan Hugo yang sempat mendapatkan beberapa kali kesempatan, ketegasan kini ditunjukkan oleh pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto. Sadar bahwa kedisiplinan adalah fondasi utama pembentukan karakter pemain, Nova dilaporkan langsung mengambil langkah berani.
Fadly Alberto dipastikan tidak dipanggil ke dalam skuad Garuda Muda menuju ASEAN Championship U-20 2026. Ini menjadi tamparan keras bagi pemain yang baru saja mencatatkan sejarah sebagai pencetak gol pertama Indonesia di ajang Piala Dunia segala umur tersebut.
PSSI dan Komite Wasit Turun Tangan
Sekjen PSSI, Yunus Nusi, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini. PSSI memastikan bahwa Komisi Disiplin (Komdis) akan memberikan sanksi tanpa pandang bulu terhadap pihak-pihak yang terlibat kekerasan.
“PSSI sangat menyayangkan kejadian ini. Tentu siapa pun yang terlibat, PSSI dan Komdis akan mengambil tindakan tegas,” ujar Yunus Nusi.
Menariknya, PSSI juga menyoroti kelalaian perangkat pertandingan. Di bawah arahan Yoshimi Ogawa, Komite Wasit akan mengevaluasi wasit yang bertugas di laga tersebut karena dinilai gagal mengendalikan situasi lapangan hingga kericuhan pecah.
Harapan untuk Sang Wonderkid
Kasus Fadly Alberto menjadi pengingat pahit bagi seluruh talenta muda di Indonesia. Bakat teknis yang luar biasa tidak akan ada artinya tanpa kontrol emosi yang stabil. Jika Alberto tidak segera berbenah diri dan mengakui kesalahannya, ia terancam mengikuti jejak para wonderkid yang layu sebelum berkembang akibat ego dan temperamen yang meledak-ledak.
Dunia sepak bola berharap sanksi yang akan dijatuhkan nanti mampu memberikan efek jera, sekaligus menjadi titik balik bagi Alberto untuk menemukan kembali jalur karier yang benar.












