WOLFSBURG, WWW.PASJABAR.COM – Mantan gelandang Manchester United, Christian Eriksen, akhirnya buka suara mengenai situasi internal di Old Trafford selama kepemimpinan Ruben Amorim. Christian Eriksen kritik Ruben Amorim terkait gaya komunikasi publik Amorim yang dianggap terlalu vokal dalam menjatuhkan mental para pemainnya sendiri.
Menurut Eriksen, tindakan Amorim seringkali menciptakan “drama” yang tidak perlu di tengah situasi sulit klub.
Sejak mendarat di Manchester pada November 2024, Ruben Amorim memang dikenal sebagai sosok yang blak-blakan.
Namun, kejujuran tersebut dinilai Eriksen telah melewati batas, terutama saat manajer asal Portugal itu menyebut skuad Manchester United asuhannya sebagai “yang terburuk dalam sejarah klub” pada Januari 2025 lalu.
Pernyataan tersebut, menurut Eriksen, justru menjadi bumerang yang merusak keharmonisan ruang ganti.
Drama Komunikasi: Menambah Minyak ke Dalam Api
Christian Eriksen mengungkapkan bahwa para pemain Manchester United sebenarnya sudah bekerja keras untuk meredam kritik tajam dari pihak luar, termasuk komentar pedas dari para legenda klub yang kini menjadi pandit televisi.
Namun, alih-alih memberikan perlindungan atau motivasi, Amorim justru dinilai menambah beban psikologis pemain dengan kritik terbuka di depan media.
“Itu tidak membantu. Ya, itu sama sekali tidak membantu para pemain,” tegas Eriksen dalam wawancara eksklusif dengan The Sunday Times.
Gelandang berusia 33 tahun tersebut merasa bahwa pelatih seharusnya memiliki batasan antara evaluasi internal dan konsumsi publik.
Kritik yang terlalu terbuka hanya akan memicu kebisingan di media sosial dan memberikan tekanan tambahan yang tidak produktif bagi performa tim di lapangan.
Christian Eriksen Kritik Ruben Amorim: Etika Ruang Ganti vs Konsumsi Publik
Bagi Eriksen, ada hal-hal tertentu yang seharusnya tetap menjadi rahasia di dalam ruang ganti.
Memberikan label negatif kepada pemain yang sedang berjuang keras untuk bangkit dianggap sebagai langkah yang tidak bijaksana.
Pernyataan-pernyataan Amorim di ruang pers seringkali membuat para pemain merasa dikhianati oleh pemimpin mereka sendiri.
“Beberapa hal bisa Anda katakan di dalam, tetapi tidak bijaksana untuk mengatakannya di luar, untuk memberikan tekanan tambahan dan memberi label tambahan pada para pemain,” ujar Eriksen.
Ia menambahkan bahwa setiap kali Amorim melontarkan kritik keras, para pemain hanya bisa bergumam, “Oh, mulai lagi. Viral lagi.”
Sikap reaktif media terhadap ucapan Amorim justru membuat lingkungan kerja di Carrington menjadi sangat tidak sehat.
Musim Terburuk Manchester United dalam Sejarah Premier League
Kritik Eriksen ini didasari oleh realita pahit yang dialami Manchester United pada musim 2024/2025.
Di bawah kendali Amorim, Setan Merah mencatatkan rekor terburuk sejak era Premier League dimulai pada tahun 1992.
United harus puas finis di peringkat ke-15 klasemen akhir dengan koleksi hanya 42 poin.
Statistik menunjukkan kemerosotan yang sangat mengkhawatirkan: United menelan 18 kekalahan dan hanya mampu meraih 11 kemenangan.
Selain itu, selisih gol mereka berakhir dengan angka minus (44 gol memasukkan dan 54 gol kemasukan).
Data ini seolah memvalidasi pernyataan “terburuk dalam sejarah” milik Amorim, namun bagi Eriksen, cara penyampaian sang manajerlah yang membuat situasi semakin sulit untuk diperbaiki.
Babak Baru Eriksen di Wolfsburg Setelah Era Setan Merah
Setelah tiga tahun berseragam Manchester United, Christian Eriksen akhirnya meninggalkan Old Trafford dengan status bebas transfer.
Ia memutuskan untuk melanjutkan kariernya di Bundesliga bersama Wolfsburg sejak September 2025.
Meski sudah tidak lagi menjadi bagian dari skuad United, Eriksen merasa perlu menyuarakan hal ini agar menjadi pelajaran bagi manajemen klub dalam menangani komunikasi manajer di masa depan.
Kini, di usia 33 tahun, Eriksen tampak lebih tenang menikmati babak baru dalam kariernya.
Sementara itu, Manchester United masih berjuang untuk bangkit dari puing-puing kegagalan musim lalu.
Kritik Eriksen ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan hanya soal taktik di atas lapangan, tetapi juga soal bagaimana menjaga integritas dan mentalitas pemain di hadapan publik dunia.












