MANCHESTER, WWW.PASJABAR.COM – Manajer Manchester United, Ruben Amorim, akhirnya menunjukkan fleksibilitas taktiknya dalam lanjutan laga Liga Inggris akhir pekan lalu. Setelah setia dengan skema tiga bek sejak kedatangannya, pelatih asal Portugal tersebut memutuskan untuk mengubah formasi dasar tim saat menjamu Newcastle United di Old Trafford.
Perubahan ini terbukti jitu setelah Setan Merah berhasil mengamankan kemenangan tipis 1-0.
Gol tunggal kemenangan United dicetak oleh Patrick Dorgu, namun sorotan utama tertuju pada perubahan struktur permainan tim.
United yang biasanya tampil dengan skema 3-4-2-1, kali ini bertransformasi menggunakan formasi klasik 4-2-3-1.
Hasilnya pun instan; lini pertahanan United tampak lebih solid dan berhasil mencatatkan clean sheet yang sangat dibutuhkan untuk mendongkrak posisi di klasemen.
Perubahan Formasi Manchester United Adaptasi di Tengah Badai Cedera Pemain
Keputusan Amorim untuk meninggalkan formasi tiga bek yang menjadi ciri khasnya bukan tanpa alasan.
Faktor utama di balik perubahan ini adalah krisis pemain akibat badai cedera yang menghantam skuad Manchester United.
Dengan keterbatasan pilihan di sektor bek tengah dan posisi sayap, Amorim merasa skema empat bek lebih masuk akal untuk diterapkan saat ini.
“Kami tidak mempunyai banyak pemain, dan kami harus beradaptasi. Para pemain mengerti mengapa kami harus berubah,” jelas Amorim kepada BBC.
Sebelumnya, United telah mengusung formasi 3-4-2-1 dalam 17 pertandingan beruntun di Liga Inggris.
Perubahan di pertandingan ke-18 ini menjadi sinyal bahwa Amorim lebih mementingkan hasil akhir dan kondisi nyata skuad daripada ego taktis semata.
Membangun Identitas Tim Sejak Awal Proses
Ruben Amorim mengakui bahwa sejak kedatangannya pada November 2024, ia sebenarnya menyadari bahwa komposisi pemain Manchester United mungkin tidak sepenuhnya cocok dengan sistem tiga bek andalannya.
Namun, ia tetap memaksakan sistem tersebut di awal kepemimpinannya demi membangun identitas dan prinsip bermain yang jelas.
“Saat saya datang ke sini tahun lalu, saya mengerti mungkin saya tak mempunyai pemain-pemain yang bermain bagus dengan sistem itu, tapi itu awal dari proses,” ungkap mantan pelatih Sporting CP tersebut.
Baginya, konsistensi taktik di awal masa jabatan sangat penting agar pemain memahami filosofi dasar yang ia inginkan sebelum mulai melakukan penyesuaian di momen-momen tertentu.
Menolak Tunduk pada Tekanan Media dan Fans
Satu hal yang ditegaskan Amorim adalah bahwa perubahan formasi menjadi 4-2-3-1 ini murni karena kebutuhan teknis, bukan karena desakan publik atau kritik pedas dari media.
Selama berbulan-bulan, Amorim memang terus dihujani pertanyaan mengenai kapan ia akan menggunakan skema empat bek yang lebih familiar bagi para pemain United.
“Ini bukan karena tekanan dari kalian (media), atau fans. Jika saya berubah karena kalian berbicara mengenai sistem sepanjang waktu, maka pemain akan menganggap saya lemah. Saya pikir itu akan menjadi akhir dari karier seorang manajer jika ia membiarkan pihak luar mendikte taktiknya,” tegas Amorim dengan nada lugas.
Dampak Positif: Kemenangan dan Pertahanan yang Lebih Rapi
Transformasi taktik ini memberikan dampak instan pada keseimbangan tim.
Dengan formasi 4-2-3-1, Manchester United terlihat lebih rapi.
Terutama dalam menutup ruang di area tengah dan meminimalisir ancaman dari sisi sayap Newcastle.
Gol Patrick Dorgu menjadi pelengkap manis dari performa disiplin yang ditunjukkan oleh para penggawa United sepanjang laga.
Kemenangan ini diharapkan menjadi titik balik bagi United untuk merangkak naik ke papan atas klasemen Liga Inggris.
Meskipun Amorim tidak menjamin akan terus menggunakan skema empat bek di laga-laga selanjutnya, fleksibilitas yang ia tunjukkan membuktikan bahwa ia adalah manajer yang pragmatis dan siap melakukan apa pun demi kejayaan Setan Merah.












