WWW.PASJABAR.COM — PSSI secara resmi telah menampung juru taktik asal Inggris, John Herdman, untuk menahkodai Timnas Indonesia. Herdman diproyeksikan memimpin Skuad Garuda menghadapi ajang besar seperti Piala Asia 2027 dan lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2030. Namun, penunjukan ini memicu perdebatan hangat di kalangan pencinta sepak bola internasional. Pasalnya, Herdman datang dengan reputasi yang sempat tercoreng akibat skandal skandal drone yang mengguncang dunia olahraga Kanada.
Sebelum berlabuh di Indonesia, pelatih berusia 50 tahun ini sempat menganggur selama satu tahun pasca-terungkapnya aksi mata-mata tim lawan.
Jejak Prestasi yang Ternoda Skandal Drone Mata-Mata
John Herdman sebenarnya memiliki catatan karier yang mentereng di Amerika Utara.
Ia sukses membawa Timnas Putri Kanada meraih medali perunggu Olimpiade dan mencatatkan sejarah dengan mengantar Timnas Putra Kanada kembali ke panggung Piala Dunia pada 2022.
Sayangnya, seluruh pencapaian tersebut kini dibayangi oleh “Skandal Drone”.
Investigasi independen dari federasi sepak bola Kanada (Canada Soccer) mengungkap bahwa aksi memata-matai sesi latihan tertutup tim lawan menggunakan drone telah dimulai sejak era kepemimpinan Herdman pada tahun 2018.
Detail Skandal Drone di Kanada
Berbeda dengan metode analisis taktik konvensional, skandal ini melibatkan tindakan yang dinilai melanggar kode etik dan disiplin berat:
-
Metode: Mengirim orang untuk menerbangkan drone di atas markas latihan rahasia tim lawan.
-
Tujuan: Mengetahui strategi, susunan pemain, dan skema bola mati lawan sebelum pertandingan dimulai.
-
Dampak: Skandal ini meledak di Olimpiade 2024 (di bawah asuhan Bev Priestman) dan menyeret nama Herdman sebagai dalang yang memulai budaya tersebut.
Pada sidang disiplin Maret 2025, Herdman terbukti melanggar kode etik, meskipun ia hanya dijatuhi hukuman berupa surat teguran keras—sebuah keputusan yang sempat diprotes media Kanada yang menuntut sanksi seumur hidup.
Pembelaan Diri John Herdman
Menanggapi berbagai tudingan miring, Herdman tetap bersikeras bahwa dirinya bekerja dengan integritas.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Reuters, ia mengaku bangga dengan masa pengabdiannya di Kanada.
“Sepanjang karier saya, saya telah memimpin dengan integritas, transparansi, dan respek terhadap permainan. Saya tetap berfokus pada gairah saya untuk melatih dan membantu tim mencapai potensi terbaiknya,” tutur Herdman.
Ia menyatakan telah bersikap kooperatif selama proses investigasi dan kini siap menatap perjalanan baru di belahan dunia yang berbeda.
Harapan Baru untuk Skuad Garuda
Bagi Timnas Indonesia, kehadiran pelatih sekaliber Herdman diharapkan mampu memberikan lompatan kualitas di kancah Asia.
Namun, publik sepak bola Tanah Air juga memberikan peringatan keras agar integritas sepak bola Indonesia tetap terjaga.
Tantangan bagi Herdman di Indonesia bukan hanya soal meracik taktik di lapangan hijau, tetapi juga memulihkan nama baiknya dan membuktikan bahwa ia mampu meraih kesuksesan tanpa perlu menggunakan trik ilegal yang mencoreng sportivitas.












