WWW.PASJABAR.COM – Kondisi burnout dan post holiday blues kerap disamakan karena sama-sama ditandai dengan menurunnya semangat bekerja atau belajar setelah periode tertentu.
Namun, psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menegaskan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan mendasar, baik dari sisi penyebab, durasi, maupun dampaknya terhadap individu.
“Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis terhadap pekerjaan, serta penurunan pencapaian personal. Sementara post holiday blues tidak sampai mengubah sikap dasar seseorang terhadap pekerjaan atau sekolah,” kata Virginia Hanny saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin (5/1/2026).
Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran itu menjelaskan bahwa perbedaan burnout dan post holiday blues dapat dikenali dari lamanya kondisi tersebut berlangsung. Burnout merupakan kondisi kronis yang berkembang dalam jangka panjang, sedangkan post holiday blues bersifat sementara.
“Secara durasi, burnout bisa berlangsung sangat lama, bahkan bertahun-tahun jika tidak ditangani. Sementara post holiday blues biasanya hanya berlangsung beberapa hari hingga maksimal dua minggu,” ujarnya.
Perbedaan Penyebab dan Dampak Psikologis
Virginia menjelaskan, burnout umumnya disebabkan oleh stres kerja berkepanjangan, tuntutan berlebih, kurangnya kontrol, serta minimnya dukungan di lingkungan kerja atau sekolah. Kondisi ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental dan performa individu dalam jangka panjang.
Sebaliknya, post holiday blues muncul sebagai respons psikologis terhadap perubahan suasana dari liburan yang menyenangkan kembali ke rutinitas harian. “Ini lebih kepada proses adaptasi.
Bukan karena pekerjaan itu sendiri bermasalah, tetapi karena tubuh dan pikiran perlu waktu untuk menyesuaikan kembali,” katanya.
Dari sisi perilaku, individu yang mengalami burnout cenderung bersikap apatis, sinis, bahkan menarik diri dari pekerjaan atau aktivitas akademik dalam waktu lama. Sementara itu, mereka yang mengalami post holiday blues umumnya hanya merasa malas, enggan, atau kurang bersemangat untuk sementara waktu.
Untuk mengatasi post holiday blues, Virginia menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti membangun kembali rutinitas secara bertahap, memperbaiki pola tidur agar lebih konsisten, serta menetapkan tujuan-tujuan kecil yang realistis.
“Mempertahankan hal-hal menyenangkan saat liburan, seperti olahraga ringan, menjalankan hobi, atau bersosialisasi juga sangat membantu. Penting untuk menyadari bahwa perasaan ini wajar, tetapi jangan dibiarkan berlarut-larut. Jika perlu, diskusikan dengan orang terdekat atau tenaga profesional,” tutupnya. (han)












