WWW.PASJABAR.COM – Memiliki tato merupakan gaya yang dipilih sebagian orang untuk mengekspresikan makna pribadi. Namun, di balik nilai estetika tersebut, terdapat konsekuensi interaksi biologis yang jarang disadari.
Dikutip dari laman Science Alert, Minggu (4/1/2026), Dosen Senior Mikrobiologi Medis Universitas Westminster, Manal Mohammed, menjelaskan bahwa setelah tinta tato masuk ke dalam tubuh, pigmen di bawah kulit akan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh dengan cara yang baru mulai dipahami oleh para ilmuwan.
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pigmen tato yang umum digunakan dapat memengaruhi aktivitas imun, memicu peradangan, serta berpotensi mengurangi efektivitas vaksin tertentu.
“Para peneliti menemukan bahwa tinta tato diserap oleh sel-sel kekebalan di kulit. Ketika sel-sel ini mati. Mereka melepaskan sinyal yang membuat sistem kekebalan tetap aktif, menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening di dekatnya hingga dua bulan,” ujar Mohammed.
Kandungan Tinta Tato dan Dampaknya bagi Sistem Imun
Tinta tato merupakan campuran kimia yang kompleks. Di dalamnya terdapat pigmen pemberi warna, cairan pembawa untuk mendistribusikan tinta. Pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroba, serta sejumlah kecil pengotor.
Menariknya, banyak pigmen yang saat ini digunakan awalnya dikembangkan untuk kebutuhan industri seperti cat mobil, plastik, dan toner printer, bukan untuk disuntikkan ke dalam kulit manusia.
“Beberapa tinta mengandung logam berat dalam jumlah kecil, seperti nikel, kromium, kobalt, dan terkadang timbal. Logam berat ini dapat bersifat toksik pada kadar tertentu dan diketahui dapat memicu reaksi alergi serta sensitivitas imun,” jelasnya.
Proses pembuatan tato dilakukan dengan menyuntikkan tinta ke dalam dermis, lapisan kulit di bawah permukaan. Tubuh kemudian mengenali partikel pigmen tersebut sebagai benda asing.
Sel-sel kekebalan berusaha menghilangkannya, tetapi ukuran partikel yang besar membuat pigmen tidak dapat dibersihkan sepenuhnya dan akhirnya terperangkap di dalam sel kulit. Sehingga tato menjadi permanen.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pigmen tato dapat mengganggu sinyal imun, yakni sistem komunikasi kimia yang digunakan sel imun. Untuk mengoordinasikan respons terhadap infeksi atau vaksinasi dalam kondisi tertentu.
Selain itu, tintanya dapat mengandung senyawa organik seperti pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik yang lazim digunakan dalam tekstil dan plastik.
Dalam kondisi tertentu, misalnya paparan sinar matahari berlebihan atau penghapusan tato dengan laser. Senyawa ini dapat terurai menjadi amina aromatik yang dalam studi laboratorium dikaitkan dengan kanker dan kerusakan genetik.
“Sampai saat ini belum ada bukti epidemiologis kuat yang mengaitkan tato dengan kanker pada manusia. Namun, studi laboratorium dan hewan menunjukkan adanya potensi risiko,” kata Mohammed.
Bagi kebanyakan orang, tato tidak menimbulkan masalah kesehatan serius. Meski demikian, tetap memasukkan zat kimia ke dalam tubuh yang tidak dirancang untuk berada lama di jaringan manusia.
Seiring menjadi lebih besar, lebih banyak, dan lebih berwarna, beban kimia pun meningkat dan berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang masih terus diteliti oleh dunia sains. (han)









