LVIV, WWW.PASJABAR.COM – Tensi perang di Eropa Timur mencapai titik kritis setelah Rusia meluncurkan rudal balistik hipersonik jarak menengah, Oreshnik, ke wilayah Ukraina Barat pada Jumat malam.
Serangan ini menjadi sorotan dunia karena lokasi jatuhnya rudal hanya berjarak beberapa kilometer dari perbatasan Polandia, yang merupakan anggota aktif NATO.
Langkah Moskow ini dinilai bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan upaya intimidasi terbuka terhadap aliansi Barat agar menghentikan dukungan persenjataan mereka kepada Kyiv.
Oreshnik: Senjata Psikologis Kremlin
Rudal Oreshnik merupakan senjata balistik generasi terbaru yang diklaim Kremlin mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional mana pun saat ini.
Meski mampu membawa hulu ledak nuklir, dalam serangan kali ini rudal tersebut dilaporkan membawa hulu ledak inert atau “dummy”.
Menurut otoritas Ukraina, rudal ini menghantam sebuah bengkel perusahaan negara di kota Lviv.
Ledakan submunisinya menciptakan kawah di area hutan dan menyebabkan kerusakan pada struktur beton.
Penggunaan Oreshnik untuk kedua kalinya dalam perang ini dipandang para analis sebagai proyeksikan kekuatan Rusia untuk menekan Ukraina di tengah meja perundingan damai yang sedang berlangsung.
Respons Tegas Pemimpin Eropa dan NATO
Serangan yang terjadi sangat dekat dengan wilayah Uni Eropa ini langsung memicu reaksi keras.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memperingatkan bahwa ancaman ini bukan hanya milik Kyiv, tetapi juga tantangan langsung bagi Warsawa, Bucharest, dan Budapest.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kallas, menyebut penggunaan Oreshnik sebagai “eskalasi yang jelas” yang ditujukan untuk menebar ketakutan di Eropa dan Amerika Serikat.
Nada serupa disampaikan oleh Kanselir Jerman Friedrich Merz. Setelah berkoordinasi dengan pemimpin Inggris dan Prancis, Merz menegaskan bahwa gestur ancaman Putin tidak akan berhasil menggoyahkan solidaritas Barat.
“Kami berdiri bersama Ukraina,” tegasnya dalam pernyataan resmi.
Dalih “Serangan Kediaman Putin” yang Dibantah
Moskow berkilah bahwa peluncuran rudal ini adalah aksi balasan atas dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin di wilayah Novgorod pada akhir Desember lalu. Namun, klaim tersebut dimentahkan oleh Kyiv dan Washington.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Sybiha, menyebut alasan Rusia tersebut sebagai “halusinasi” dan “kebohongan absurd”.
Presiden AS Donald Trump pun menyatakan ketidakpercayaannya terhadap insiden serangan kediaman Putin tersebut.
Banyak pengamat menilai Rusia sengaja menciptakan narasi palsu untuk melegitimasi penggunaan senjata berat di dekat perbatasan NATO demi menutupi kemunduran diplomatik Moskow belakangan ini.
Situasi Kemanusiaan dan Dampak Kerusakan
Di luar penggunaan rudal hipersonik, gelombang serangan udara Rusia semalam juga menghantam ibu kota Kyiv, menewaskan empat orang dan menyebabkan pemadaman listrik massal. Serangan tersebut bahkan dilaporkan merusak gedung Kedutaan Besar Qatar.
Dinas keamanan Ukraina (SBU) menyatakan bahwa Rusia secara sistematis berupaya menghancurkan infrastruktur sipil dan energi, terutama saat cuaca buruk mulai melanda wilayah tersebut.
Hal ini semakin memperparah krisis energi yang dihadapi warga sipil Ukraina di tengah musim dingin yang mencekam.
Analisis Teknis: Rudal Balistik Oreshnik
| Fitur | Deskripsi |
| Tipe | Rudal Balistik Jarak Menengah (IRBM) |
| Kecepatan | Hipersonik (Sulit dicegat sistem pertahanan saat ini) |
| Jangkauan | Menjangkau hampir seluruh ibu kota di Eropa |
| Muatan | Konvensional atau Nuklir (Multiple Warheads) |












