# Penutupan Prodi
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Wacana penataan program studi (prodi) di perguruan tinggi kembali menjadi perhatian.
Perhatian itu muncul setelah Wakil Menteri menyampaikan evaluasi besar-besaran terhadap sejumlah program studi yang dinilai sudah jenuh dan minim peluang kerja.
Menanggapi hal tersebut, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman menegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan penutupan ekstrem terhadap program studi tertentu.
Pemerintah justru mendorong perguruan tinggi agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, kampus perlu mulai “move on” atau berhijrah dari program studi yang sudah mengalami kejenuhan peminat dan memiliki lapangan pekerjaan terbatas menuju program studi baru yang lebih relevan dengan perkembangan industri dan kebutuhan masa depan.
“Realitanya, banyak program studi yang ketika mahasiswanya lulus, pertanyaannya adalah mereka akan bekerja di mana? Sementara lapangan pekerjaannya sudah tidak ada,” tuturnya.
“Supaya mahasiswa tidak dirugikan, kami meminta program studi yang sudah jenuh mengalihkan diri kepada program studi baru yang lebih memiliki peluang kerja,” ujar Lukman.
Ia menjelaskan, proses pengalihan tersebut tidak serta-merta merugikan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi dapat memindahkan dosen dan sumber daya dari program studi lama ke program studi baru. Kampus juga dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang sudah ada agar proses transisi berjalan lebih mulus.
Dinamika Program Studi
Lukman menyebut dinamika pembukaan dan penutupan program studi sebagai hal yang biasa di lingkungan perguruan tinggi.
Di wilayah Jawa Barat dan Banten, terdapat sekitar 3.051 program studi. Sekitar 9 persen di antaranya mengalami perubahan setiap tahun.
“Kampus membuka program studi baru dan menutup program studi lain. Dinamika ini wajar dan sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Jadi bukan sesuatu yang baru,” katanya.
Menurutnya, isu tersebut menjadi gaduh karena masyarakat mendengarnya dalam skala besar. Kondisi itu kemudian menjadi warning bagi perguruan tinggi yang memiliki program studi dengan prospek kerja terbatas.
Ia menekankan bahwa kampus tidak boleh hanya membuka program studi karena memiliki sumber daya manusia dan fasilitas pendukung.
Perguruan tinggi juga harus memikirkan keberlanjutan karier lulusannya.
“Yang harus dipikirkan adalah mahasiswa. Setelah lulus mereka akan bekerja di mana? Jangan sampai kampus membuka program studi tetapi tidak mempertimbangkan peluang kerja lulusannya,” tambahnya.
Pastikan Prodi Masih Relevan
Sementara itu, Rektor Universitas Pasundan, Prof. Dr. H. Azhar Affandi menyampaikan bahwa hingga saat ini program studi di Unpas masih berada dalam kategori aman dan relevan dengan kebutuhan masyarakat maupun dunia industri.
“Alhamdulillah, kalau melihat keberadaan program studi di Unpas saat ini, belum ada yang termasuk kategori program studi yang harus menjadi warning. Keberadaannya masih sangat diperlukan dan potensial,” ujarnya.
Meski demikian, Unpas tetap melakukan langkah antisipatif dengan mengembangkan program-program pendidikan yang sesuai kebutuhan industri masa depan.
Unpas tidak hanya membuka program studi baru, tetapi juga memperkuat kekhususan dan konsentrasi keilmuan.
Menurut Azhar, pembukaan program studi baru bukan perkara mudah. Kampus harus memenuhi berbagai persyaratan akademik dan administratif.
Karena itu, Unpas memilih strategi memperkuat spesialisasi pada program studi yang sudah ada agar tetap kompetitif dan relevan.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat akibat perkembangan teknologi, digitalisasi, hingga transformasi industri.
Perguruan tinggi kini tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga harus memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja. (han/tie)
# Penutupan Prodi
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disajikan untuk tujuan informasi umum. Redaksi Pasjabar berupaya menyajikan data yang akurat dan terkini, namun tidak menjamin kelengkapan dan keakuratan sepenuhnya.
Pembaca diharapkan melakukan verifikasi tambahan sebelum mengambil keputusan berdasarkan informasi ini. Segala risiko yang timbul dari penggunaan informasi menjadi tanggung jawab pembaca.
Jika terdapat kekeliruan atau ingin mengajukan hak jawab, silakan kunjungi halaman: Disclaimer .















