WWW.PASJABAR.COM — Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) merilis tujuh temuan penting terkait kasus penularan virus Nipah di Bengala Barat, India, melalui publikasi Disease Outbreak News (DONs).
Temuan penularan kasus virus Nipah ini dinilai krusial untuk meningkatkan pemahaman global dalam penanggulangan salah satu virus zoonotik paling mematikan tersebut.
Profesor Universitas Griffith Australia, Prof. Tjandra Yoga Aditama, mengatakan publik perlu memahami detail temuan WHO agar kewaspadaan dan respons kesehatan dapat dilakukan secara tepat.
Menurutnya, kasus yang tengah menjadi perhatian melibatkan dua tenaga kesehatan muda berusia 20–30 tahun yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, Bengala Barat.
“Keduanya mulai menunjukkan gejala sakit berat pada akhir Desember 2025 dan dirawat pada awal Januari 2026,” kata Prof. Tjandra, dikutip dari ANTARA, Selasa (3/2/2026).
Pada 13 Januari 2026, kedua pasien tersebut dinyatakan positif terinfeksi virus Nipah setelah pemeriksaan laboratorium di India National Institute of Virology, Pune, menggunakan metode RT-PCR dan Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).
Risiko Kesehatan dan Respons Kawasan
Saat ini, perawat perempuan masih berada dalam kondisi kritis di ruang ICU dengan bantuan ventilator, sementara pasien pria mengalami gangguan neurologis berat namun menunjukkan perbaikan kondisi. Hingga kini, sumber penularan virus Nipah pada kedua kasus tersebut masih belum diketahui.
“Dengan belum ditemukannya bagaimana dua orang perawat ini tertular, tentu sumber penular awalnya belum diketahui sehingga penanganannya belum sepenuhnya tuntas,” ujar Prof. Tjandra.
WHO menilai risiko kesehatan masyarakat akibat kejadian ini berada pada kategori moderat di tingkat subnasional India. Namun rendah pada tingkat regional dan global.
Meski demikian, beberapa negara Asia seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura telah meningkatkan kewaspadaan. Dengan memperketat pemeriksaan kesehatan di pintu masuk negara, terutama menjelang periode perjalanan tinggi seperti Tahun Baru Imlek.
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen. Serta dapat menyebabkan ensefalitis dan gangguan neurologis serius.
Oleh karena itu, WHO telah memasukkan virus Nipah sebagai patogen prioritas untuk percepatan pengembangan langkah penanganan medis dan kesiapsiagaan pandemi. (han)












