WWW.PASJABAR.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa puncak peradaban dalam falsafah Sunda terletak pada “rasa”, bukan pada tulisan atau aturan yang dikodifikasi.
Hal tersebut disampaikannya dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-58 UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Gedung Aula Anwar Musaddad, Kota Bandung, Rabu (8/4/2026).
Dalam pidatonya, Dedi yang akrab disapa KDM menjelaskan bahwa masyarakat Sunda memiliki pendekatan khas dalam memahami kehidupan, yakni melalui penghayatan rasa. Menurutnya, nilai-nilai kehidupan tidak selalu harus dituangkan dalam bentuk tulisan atau kesepakatan formal.
“Dalam falsafah Sunda, peradaban tertinggi itu rasa. Karena tertinggi rasa maka orang Sunda tidak menulis peradaban, tidak mendiskusikan peradaban, tidak membuat konsensus,” ujarnya.
Nilai Kearifan Lokal dan Harmoni dengan Alam
Dedi mengungkapkan bahwa melalui proses melihat, mendengar, dan merasakan, seseorang dapat memahami mana yang baik dan tidak dalam kehidupan. Pendekatan ini dinilai menjadi fondasi dalam membentuk karakter masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi harmoni.
Ia menambahkan, nilai tersebut tercermin dalam praktik kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara masyarakat Sunda berinteraksi dengan alam. Salah satu contohnya adalah penggunaan rumah panggung serta material bambu yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Selain itu, Dedi juga menyoroti larangan eksploitasi alam dalam budaya Sunda. Menurutnya, tindakan merusak lingkungan merupakan perilaku yang paling dihindari dalam falsafah tersebut.
“Yang paling buruk adalah orang yang menebang pohon sampai ke akar-akarnya,” tegasnya.
Melalui momentum Dies Natalis ini, Dedi mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga dan merawat nilai-nilai kearifan lokal. Ia berharap, nilai tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan peradaban yang berkelanjutan, khususnya di Jawa Barat. (*)












