BANDUNG BARAT, WWW.PASJABAR.COM— Komunitas Temu Sejarah Indonesia menggelar kegiatan eksplorasi ke #8 pada Minggu (7/12/2025) di kawasan Curug Sawer, Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Berkolaborasi dengan Geowana Ecotourism, kegiatan ini mengajak peserta menelusuri tiga titik historis yang saling terhubung: Gedung Radio NIROM, Curug Sawer, dan Gua Rangkong, ruang-ruang senyap yang menyimpan cerita perkembangan teknologi komunikasi kolonial di Jawa Barat.
Pemandu geowisata sekaligus Founder Geowana Ecotourism, Gan-Gan Jatnika, menjelaskan bahwa ketiga lokasi tersebut merupakan bagian dari satu sistem besar komunikasi radio pada masa Belanda. Menurutnya, Radio NIROM merupakan bangunan pemancar radio, sementara sumber listriknya diperoleh dari aliran sungai di Curug Sawer melalui pembangkit listrik mini.
“Gua Rangkong itu bukan tempat menyimpan perangkat radionya, tapi tempat penyimpanan peralatan antena, terutama kabel-kabel yang dibentangkan dari Pasir Ipis ke Gegerpulus. Dua bukit itu jadi titik gantung antenanya,” jelas Gan-Gan.
Ia menambahkan bahwa lorong gua yang digunakan sebagai gudang peralatan itu sebenarnya sangat panjang dan belum diketahui ujungnya.
“Selama ini orang hanya melihat bagian depannya saja. Padahal peran gua itu penting dalam sistem komunikasinya,” ungkapnya.
Gan-Gan juga menekankan nilai sejarah yang kerap terlupakan, khususnya tentang peran teknisi pribumi.
“Bukan hanya Malabar yang punya sejarah komunikasi. Di Cililin ini pun ada. Dan teknisinya banyak pribumi, mereka bukan kuli, tapi engineer yang disekolahkan. Ini kebanggaan kita. Seratus tahun lalu orang pribumi sudah menguasai teknologi komunikasi,” ujarnya.
Berwisata Sejarah di Alam Bebas
Adapun Founder Temu Sejarah, Tiwi Kasavela, menyampaikan bahwa Temu Sejarah Explore #8 memberi warna berbeda dibandingkan edisi sebelumnya.
“Sebelumnya kami mengadakan acara walking tour di pusat kota, di antaranya di Bandung, Solo, Ngawi, Malang, Jakarta, Lembang dan Madiun. Kali ini kami sengaja membawa peserta ke alam untuk menghadirkan pengalaman yang lebih segar, belajar sejarah sambil hiking. Wisata sejarah yang anti-mainstream,” ungkapnya.
Tiwi berharap kegiatan ini semakin membuka wawasan publik tentang sejarah lokal.
“Menjelang ulang tahun kedua, kami ingin tetap eksis, tidak hanya lewat diskusi, tapi juga lewat kegiatan lapangan yang mengajak orang memahami sejarah lewat pengalaman langsung,” tuturnya.
Kegiatan ini menjadi upaya kolaboratif untuk menghidupkan kembali memori teknologi komunikasi kolonial yang nyaris terlupakan, sekaligus mengajak generasi muda melihat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di kota, tetapi juga di rimbun hutan Cililin. (tiwi)












