# Pencegahan Stunting
BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM — Persoalan stunting bukan sekadar menyangkut tinggi badan anak, melainkan menjadi pertaruhan kualitas generasi masa depan.
Isu ini mengemuka dalam program “Rehat” (Ramadan Sehat), kolaborasi PAS TV bersama Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (FK Unpas), yang menghadirkan Dr. Alma Lucyati, dr., M.KM., M.Si., MH.Kes., dipandu oleh Sofa Rahmannia, dr., M.Kes.
Dalam pemaparannya, dr. Alma menyoroti ketidaksinkronan antara besarnya anggaran pemerintah dengan capaian penurunan angka stunting di lapangan.
Menurutnya, persoalan ini tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif dan pembagian bantuan semata, melainkan harus menyentuh akar persoalan di tingkat keluarga.
Berdasarkan penelitiannya, kunci utama pencegahan stunting terletak pada penguatan peran keluarga serta pemanfaatan titik-titik kritis (critical point) dalam siklus hidup manusia.
Tiga Masa Sensitif Penentu Kualitas Anak
Ia menjelaskan terdapat tiga masa sensitif yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak, yakni masa remaja putri, masa kehamilan, serta enam bulan pertama setelah kelahiran.
Data menunjukkan, sebanyak 40,7 persen bayi yang lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) atau di bawah 2.500 gram telah mengalami stunting sejak awal kehidupan.
“Jangan sampai kita meninggalkan keturunan yang lemah,” tegasnya, mengutip pesan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa.
Menurutnya, pendidikan ibu dan gaya hidup remaja putri menjadi faktor tidak langsung yang sangat berpengaruh terhadap risiko stunting.
Tren diet ekstrem demi mengejar standar kecantikan hingga menyebabkan anemia, ditambah pernikahan usia dini di bawah 20 tahun, meningkatkan risiko melahirkan anak dengan kondisi kurang gizi.
ASI Eksklusif Turunkan Risiko Secara Signifikan
Meski demikian, penelitian tersebut juga menemukan kabar baik. Angka stunting pada bayi BBLR dapat ditekan drastis dari 40,7 persen menjadi 10,6 persen apabila ibu memberikan ASI eksklusif dan memanfaatkan masa cuti melahirkan secara optimal.
Kontak langsung antara ibu dan bayi melalui metode skin-to-skin juga disebut memiliki dampak signifikan.
Selain mendukung keberhasilan menyusui, kontak batin tersebut berperan dalam stimulasi saraf dan pembentukan ikatan emosional.
Ia pun mengingatkan para ibu agar fokus saat menyusui dan tidak terdistraksi oleh gawai, karena kualitas interaksi sangat memengaruhi tumbuh kembang anak.
Faktor Lingkungan dan Peran Kepemimpinan
Stunting merupakan persoalan multisektoral. Selain asupan gizi, faktor lingkungan seperti ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak, serta paparan asap rokok di dalam rumah turut menjadi pemicu.
Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dari tingkat desa hingga provinsi guna menyinkronkan berbagai intervensi.
Program kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga harus berjalan selaras agar hasilnya optimal.
Metode LUSI: Pendekatan Berbasis Data dan Kolaborasi
Sebagai solusi, dr. Alma memperkenalkan metode LUSI, yakni:
- Lihat datanya
- Lihat kondisi masyarakatnya
- Sinkronisasi upaya dan informasi
- Informasikan kepada seluruh pihak terkait
Pendekatan ini menekankan pentingnya kebijakan berbasis data serta kolaborasi lintas sektor agar intervensi tepat sasaran.
Ancaman Jangka Panjang bagi Generasi Bangsa
Sementara itu, dr. Sofa Rahmannia mengajak masyarakat untuk tidak mengabaikan persoalan ini.
Tanpa intervensi yang tepat, anak stunting berisiko mengalami gangguan metabolisme, penurunan daya tahan tubuh, hingga keterlambatan kognitif.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menjadi beban negara karena berdampak pada produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.
Menuju Indonesia Emas 2045, pencegahan stunting menjadi tanggung jawab bersama yang dimulai dari keluarga, melalui pola asuh yang tepat, asupan gizi seimbang, serta lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok. (*)
# Pencegahan Stunting











