CLOSE ADS
CLOSE ADS
PASJABAR
Sabtu, 18 April 2026
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI
No Result
View All Result
PASJABAR
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home PASNUSANTARA

IPB Perkenalkan 107 Varietas Unggul Padi Dan Tanaman Pengganti Gandum

Nissa Ratna
10 Januari 2023
Hukum, Ukuran, dan Niat Zakat Fitrah

ilustrasi beras (foto : https://pixabay.com/id/photos/beras-nasi-nasi-putih-korea-3997767/)

Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

Bogor, WWW.PASJABAR.COM – 107 varietas padi dan tanaman-tanaman pengganti gandum diperkenalkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) University.

Hal tersebut sebagai salah satu solusi untuk peningkatan produksi pangan beras di tengah tantangan krisis akibat perubahan iklim dan situasi ekonomi tidak stabil efek perang Rusia dan Ukraina.

“Jadi, memang yang pertama, krisis pangan ini menjadi ancaman, karena apa, karena faktor perubahan iklim dan kedua adalah faktor geopolitik karena Rusia dan Ukraina sehingga terjadi kenaikan (harga) energi dan kenaikan harga pupuk,” jelas Rektor IPB University Arif Satria di Bogor, Senin.

Melansir Dari Antara News Arif mengemukakan memang IPB sudah menganalisis bahwa itu akan memberikan dampak kepada ketersediaan pangan di dalam negeri.

Khususnya bahan pokok beras kalau Indonesia tidak segera melakukan langkah-langkah kongkret untuk meningkatkan produktifitas.

“Sehingga cara yang baik untuk meningkatkan produktifitas, satu adalah teknologi varietas-varietas unggul dan IPB sudah punya 107 varietas unggul tadi saya sampaikan, untuk lahan kering, lahan sawah kita sudah bisa,” katanya.

Indonesia sudah menghasilkan produk-produk tepung lokal sebagai substitusi gandum

Selain itu, Indonesia sudah menghasilkan produk-produk tepung lokal sebagai substitusi gandum yang impornya semakin lama semakin meningkat.

Arif menyebut pada 2010 impor gandum dari luar negeri sekitar empat juta ton sekarang sudah hampir 10 sampai 11 juta ton. Artinya peningkatan dalam 10 tahun ini eksponensial.

Baca juga:   Siti Lutfi Latifah Lewat Dunia Akademis Tebarkan Manfaat dan Inspirasi

“Nah, artinya apa, orang sudah beralih kepada produk impor. Sekarang tantangannya bagaimana pemerintah Indonesia ini harus memproteksi produk-produk lokal, agar produk lokal ini menjadi pilihan untuk substitusi gandum,” kata dia.

Arif pun menyampaikan produk lokal yang bisa seperti gandum banyak, ada sagu, ganyong, sukun, sorgum dan banyak lainnya yang butuh sentuhan perguruan tinggi melalui peningkatan produktifitas. Namun demikian, tidak sampai di situ, kata Arif, memang mau tidak mau produksi pangan Indonesia harus menekan angka faktor kehilangan makanan (food lost) dan sampah makanan (food waste) yang tercatat cukup tinggi.

“‘Food lost’ kita ini 184 kilogram per tahun per kapita. Artinya apa? Pangan yang tercecer, pangan yang dibuang menjadi sampah, bahkan menurut FHO kita ini bahkan terbesar di dunia 300 kilogram per kapita per tahun setelah Arab Saudi dengan 400 kilogram per kapita per tahun. tetapi hitungan kita (untuk Indonesia) 184 ton per kapita per tahun,” ungkapnya.

Tidak presisi

Menurutnya, penyebab masalah food lost dan food waste Indonesia tinggi ialah pertama adalah contoh untuk beras.

Panen yang tidak presisi, sehingga gabah yang tercecer itu mencapai 11 persen.

Baca juga:   IPB University Ciptakan Teknologi Budidaya Udang, Ini Keuntungannya

Kemudian masih masuk lagi di penggilingan padi, gabah yang rusak sekian persen sehingga perlu pembenahan.

Selanjutnya yang kedua dari penggilingan padinya benar, berarti perlu ada revitalisasi penggilingan padi.

Maka itu akan bisa meningkatkan ketersediaan pangan secara nasional.

Dengan begitu, lanjutnya, kalau ada 11 persen tercecer kemudian menjadi hanya lima persen.

Berarti minimal ada tambahan enam persen cadangan pangan beras Indonesia yang luar biasa.

Kemudian yang ketiga adalah perlu segera ada pendampingan petani.

karena varietas baru membutuhkan teknik baru, teknologi baru membutuhkan teknologi budidaya baru dan perubahan iklim membutuhkan cara adaptasi baru.

“Jadi, saya masih optimis (masalah), pertanian kita masih bisa kita atasi dengan cara tadi (mengatasi food lost dan food waste,” katanya.

Balitbangda Kabupaten Bekasi menggandeng BRIN

Sementara itu Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional ( BRIN) melakukan observasi padi merah varietas unggulan produksi lokal.

“Kami meminta bantuan BRIN dalam rangka melakukan observasi plasma nutfah dengan objek sampel di Kampung Cibadak Desa Karang Indah, Kecamatan Bojongmangu,” kata Kepala Bidang Pembangunan Balitbangda Kabupaten Bekasi Indra Wahyudi di Cikarang, Jumat.

Dia mengatakan proses observasi dilakukan di lahan seluas 6 hektare yang dikelola kelompok tani setempat. Peninjauan lahan padi merah ini untuk  mengetahui kualitas serta ciri khas untuk kebutuhan pengembangan jenis padi varietas lokal tersebut.

Baca juga:   Teliti Kebijakan Cek Kesehatan, Irvan Raih Gelar Doktor Ilmu Sosial Unpas

“Ini baru observasi tahap awal. Diharapkan nanti ketika sudah selesai seluruh proses observasi dan keluar hasil dari BRIN, jenis padi merah tersebut punya keunggulan-keunggulan sebagai dasar untuk mendaftarkan varietas ini ke Kementerian Pertanian,” katanya.

Indra mengakui hingga kini jenis padi merah di Bojongmangu ini belum memiliki nama khas. Salah satu tujuan observasi juga untuk memberikan penamaan berdasarkan koordinasi bersama antara pihaknya dengan kelompok tani serta penyuluh pertanian.

Menurut dia berdasarkan pengamatan awal, jenis padi ini memiliki keunggulan secara fisik.

Yakni rumpun padi berkualitas sehingga mampu memiliki banyak anak serta ketinggian yang lebih dari varietas lain termasuk jenis padi Ciherang.

“Kemudian dari cita rasa nasi yang dihasilkan, jenis padi merah lokal ini terasa lebih legit atau pulen dibandingkan varietas padi lain,” katanya.

Pihaknya bersama BRIN selanjutnya akan menindaklanjuti observasi awal ini dengan melakukan pengamatan.

Tahap berikutnya yakni observasi daya hasil.

Dengan harapan jenis padi ini bisa dilepas ke pasar sebagai hasil pertanian lokal khas Kabupaten Bekasi. (Nis)

Print Friendly, PDF & Email
Editor: Nissa Ratna
Tags: Inovasi IPBipb


Related Posts

Datangi Kampus IPB, Ridwan Kamil: Jadilah Bagian Succes Story Indonesia Emas 2045
PASJABAR

Datangi Kampus IPB, Ridwan Kamil: Jadilah Bagian Succes Story Indonesia Emas 2045

13 Agustus 2023
Tiga Ekosistem Pokok untuk Membangun Techno Socio Preneurial University dari IPB
PASPENDIDIKAN

Tiga Ekosistem Pokok untuk Membangun Techno Socio Preneurial University dari IPB

11 Maret 2023
Data Ratusan Mahasiswa IPB yang Terjerat Pinjol Telah Diterima Polres Bogor
PASJABAR

Data Ratusan Mahasiswa IPB yang Terjerat Pinjol Telah Diterima Polres Bogor

16 November 2022

Categories

  • CAHAYA PASUNDAN
  • HEADLINE
  • PASBANDUNG
  • PASBISNIS
  • PASBUDAYA
  • PASDUNIA
  • PASFINANSIAL
  • PASGALERI
  • PASHIBURAN
  • PASJABAR
  • PASKESEHATAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASOLAHRAGA
  • PASPENDIDIKAN
  • PASTV
  • PASVIRAL
  • RUANG OPINI
  • TOKOH
  • Uncategorized
No Result
View All Result

Trending

Galaxy S26 Ultra. (samsung.com)
HEADLINE

Bukan untuk Kaum ‘Mendang-Mending’, Samsung Galaxy S26 Ultra Hadir dengan Spek Monster dan Harga Sultan

18 April 2026

WWW.PASJABAR.COM – Samsung kembali menggebrak pasar ponsel pintar dunia dengan meluncurkan lini flagship terbarunya, Samsung Galaxy S26...

Penyerang Arsenal, Viktor Gyokeres memberikan salam kepada suporter di Lisbon jelang laga melawan Sporting CP, 8 April 2026. (c) AP Photo/Armando Franca

Dilema Lini Depan Mikel Arteta: Havertz atau Gyokeres untuk Redam Manchester City di Etihad?

17 April 2026
Kapten Sporting Portugal, Morten Hjulmand. (Gettyimages)

Kritik Pedas Morten Hjulmand: Arsenal Tim Membosankan dan Tak Menarik Ditonton!

17 April 2026
Ratusan massa padati Gedung Merdeka Bandung dalam aksi damai bela Palestina. Massa menuntut penolakan normalisasi dengan Israel dan kemerdekaan penuh Palestina. (Eci/pasjabar)

Gema Perlawanan dari Gedung Merdeka: Ratusan Massa di Bandung Tolak Normalisasi dengan Israel

17 April 2026
Foto: Inter via Getty Images/Mattia Pistoia - Inter

Badai Fisik dan Mental: Alessandro Bastoni Absen di Laga Inter Milan vs Cagliari

17 April 2026

Highlights

Gema Perlawanan dari Gedung Merdeka: Ratusan Massa di Bandung Tolak Normalisasi dengan Israel

Badai Fisik dan Mental: Alessandro Bastoni Absen di Laga Inter Milan vs Cagliari

Tantangan Berat Dewa United: Jan Olde Riekerink Waspadai Kekuatan Maung Bandung

Ratusan Ribu Pencari Kerja Gunakan Aplikasi Nyari Gawe Jawa Barat

Pantang Bersantai! Veda Ega Pratama Jajal Sirkuit Favorit Marc Marquez Jelang Moto3 Spanyol

Dewa United vs Persib Bandung Digelar Tanpa Penonton, Bobotoh Diimbau Dukung dari Rumah

PASJABAR

© 2018 www.pasjabar.com

Navigate Site

  • REDAKSI
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Alamat Redaksi & Iklan

Follow Us

No Result
View All Result
  • PASJABAR
  • PASBANDUNG
  • PASPENDIDIKAN
  • PASKREATIF
  • PASNUSANTARA
  • PASBISNIS
  • PASHIBURAN
  • PASOLAHRAGA
  • CAHAYA PASUNDAN
  • RUANG OPINI

© 2018 www.pasjabar.com

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.