BANDUNG, WWW.PASJABAR.COM – Zine merupakan media cetak yang dibuat secara mandiri oleh individu atau kelompok kecil.
Biasanya, zine berisi tulisan, ilustrasi, puisi atau karya lainnya dengan tema yang beragam sesuai dengan keinginan pembuatnya.
Zine juga digunakan sebagai media untuk menyebarkan informasi yang dikemas dalam bentuk yang sederhana.
Dalam era digital, zine sebagai media publikasi menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menyuarakan ide dan mengekspresikan diri melalui karya.
Muhammad Fadhlan Dzulfikri R.A. sebagai pereka cipta zine menceritakan perjalanannya dalam mengelola zine yang kini menjadi ruang baginya untuk bersenang-senang dan bebas berkarya dalam bentuk apapun.
Fadhlan mulai mengenal zine sejak lima tahun lalu ketika bergabung dengan kolektif atau komunitas satu pelajar di Kota Bandung.
“Dalam komunitas ini diadakan setiap minggunya untuk membaca bersama, dan bacaannya itu adalah zine. Saya baru tahu ternyata ada bentuk media lain dalam berkarya selain majalah atau tabloid,” tambahnya.
Fadhlan terinspirasi oleh berbagai zine yang dibaca, salah satunya adalah Zine Proto-Apokalips, yang menurutnya sederhana dalam bentuk tetapi kaya dalam isi.
Sekitar dua tahun lalu, ia mulai membuat zine sendiri dengan kreativitas dan semangat kebebasan.
“Meskipun sederhana dan hanya lembaran biasa, saya mulai tertarik karena di dalam zine saya bisa bebas untuk membuat apapun tanpa ada larangan dan aturan. Jadi, semua orang bisa berkarya” ungkapnya.
Zine yang ia buat dinamakan Ruang Studi Alternatif Zine. Nama ini ia ambil dari lapakannya yang ia dirikan bersama teman-temannya yang bernama Ruang Studi Alternatif.
“Saya punya lapakan yang namanya Ruang Studi Alternatif. Karena saya suka dan bisa membuat zine, jadi saya namakan zine yang saya buat dengan nama lapakannya, namun ditambahkan kata ‘zine’. Jadinya Ruang Studi Alternatif Zine” jelasnya.
Melalui Lapakan Ruang Studi ALternatif, Fadhlan bisa memamerkan zine buatannya secara langsung dalam bentuk buku.
Selain itu, ia juga memamerkannya dalam bentuk digital melalui instagram @ruangstudialternatif.
Pembuatan Zine
Proses pembuatan zine dimulai dari diskusi tema higga membuka kesempatan bagi kontributor untuk mengirimkan karya.
Fadhlan memastikan semua karya yang diterima dengan dua syarat utama yaitu bebas dari unsur rasis dan seksis. Fadhlan mengungkapkan kesulitan yang ia hadapi ketika membuat zine.
“Desain layout sering menjadi tantangan utama,” ungkapnya, “karena harus sesuai dengan tema dan karya yang masuk.” pungkasnya.
Menurut Fadhlan, Zine memiliki keunikan yang tidak dimiiki media lain. Baginya, zine adalah tempat berkreasi tanpa batas.
“Ketika ruang berkreasi pada zaman sekarang mulai sulit untuk didapatkan, zine ini dari awal pembuatan hingga akhir dibuat dari hasil kreasi sendiri tanpa ada campur tangan orang lain. Saya bisa mengetahui sudut pandang orang lain dari karya yang mereka kirim tanpa tahu latar belakang mereka.” jelasnya.
Angela Ana Gita, salah satu pembaca Ruang Studi Alternatif Zine, berbagi pengalamannya.
“Menurut aku zine itu unik. Karena di dalamnya ada berbagai macam karya dengan desainnya yang menarik. Zine juga nyaman dibawa kemana-mana.” tuturnya.
Harapan besar juga disampaikan oleh Angela untuk zine.
“Semoga pemilik zine di luar sana tetap berkarya. Karena zine ini bisa jadi tempat untuk menuangkan cerita, ide, perasaan, dan kreativitas bagi sebagian orang.” pungkasnya. (hanna/salma)









